Bertambahnya SUV di jalan memang tidak serta-merta berarti semakin banyak orang mengemudi secara agresif. Namun, ukuran dan tinggi kendaraan, serta kesan yang ditimbulkannya, dapat mempengaruhi jalannya perselisihan di jalan.
"Bagi sebagian pengemudi, kendaraan itu menjadi sarana untuk menunjukkan kekuatan dan dominasi," kata mantan perwira polisi Yashovardhan Azad kepada DW.
"Mereka mengemudi seolah kebal hukum untuk menunjukkan kuasa kepada pengendara kendaraan yang lebih kecil," ujar Azad.
Ia menyerukan penegakan hukum yang lebih tegas dengan memanfaatkan teknologi baru, pemberian hukuman berat, serta program nasional untuk mendorong perilaku berkendara yang lebih aman.
"Menabrak kendaraan yang lebih kecil dengan sengaja bukan sekadar mengemudi ugal-ugalan. Itu menunjukkan adanya niat melakukan kejahatan," katanya.
Pakar keselamatan jalan sekaligus pendiri Community Against Drunken Driving, Prince Singhal, menilai persoalan ini berkaitan dengan kendaraan maupun perilaku pengemudinya.
"Teror yang melibatkan SUV bukan sekadar persoalan lalu lintas, tetapi juga masalah perilaku," kata Singhal kepada DW.
"Pengemudi SUV memegang kendali atas seekor 'binatang buas &rsquo, dan pola pikir merekalah yang menentukan bagaimana akhirnya."
Menurut Singhal, SUV memang menjadi pilihan praktis untuk menghadapi jalan rusak dan menempuh perjalanan jauh. Namun, desain kendaraan ini juga membawa risiko tersendiri.
"Kap mesin dan bemper yang lebih tinggi meningkatkan risiko cedera fatal pada kepala dan dada pejalan kaki, anak-anak, pesepeda, serta pengguna jalan lainnya dibandingkan mobil biasa yang lebih rendah," ujarnya.
Singhal mengatakan, saat mengendarai SUV, pengemudi kerap merasakan "sensasi psikologis seolah tak terkalahkan". Perasaan ini dapat mendorong perilaku agresif, intimidasi terhadap pengguna jalan lain, dan pelanggaran aturan.
Psikiater Ravi Prakash, yang meneliti perilaku berlalu lintas di Veditha Mind Care Clinic di Bengaluru, sependapat. Menurutnya, pengemudi "merasa kuat sekaligus terlindungi di dalam kendaraan yang besar dan kokoh".
Namun, ia mengingatkan bahwa ada persoalan psikologis lain yang turut berperan.
"Ada fenomena psikologis yang disebut 'personalisasi', ketika seseorang menafsirkan tindakan biasa dari orang yang tidak dikenalnya sebagai sesuatu yang ditujukan secara pribadi kepadanya," kata Prakash kepada DW.
Seseorang yang memotong jalur mungkin sedang terburu-buru. Namun, pengemudi lain bisa menganggap tindakan itu sebagai upaya menunjukkan siapa yang lebih berkuasa. Perasaan dihina kemudian dapat mengusik harga diri dan memicu lonjakan amarah.
"Biasanya, menyakiti orang lain bukanlah tujuan awal," ujar Prakash.