NADIKABAR.COM — Asap masih tebal menyelimuti Pulau Kei Besar, Maluku, pada siang hari itu. Meski langit masih dalam kondisi yang tidak biru usai wilayah itu dilanda kebakaran hutan dan lahan (karhutla), masyarakat tetap mengantre demi mendapatkan pengobatan gratis dari Rumah Sakit Kapal (RSK) Nusa Waluya II yang bersandar di Pelabuhan Elat sejak 8 September 2026.

Satu per satu petugas memanggil nama-nama mereka yang datang dengan berbagai keluhan, mulai dari sakit yang tidak membutuhkan penanganan serius, seperti batuk, pegal di pinggang sebelah kiri, hingga penyakit kulit yang membutuhkan pengobatan khusus.

Bagi Rindung (60), warga Desa Wakol, Pulau Kei Besar, Maluku Tenggara, mendapatkan pengobatan yang tepat bagi anaknya bukan perkara mudah. Selama setahun terakhir, ia harus menghadapi kenyataan bahwa penyakit kulit yang diderita anaknya tak kunjung sembuh meski sudah beberapa kali mendapatkan pengobatan.

Rindung memiliki anak berkebutuhan khusus yang berusia 12 tahun bernama Risdal. Setelah tiga kali membawa anaknya berobat ke rumah sakit di Desa Wakol, kondisi anaknya tidak kunjung membaik karena keterbatasan dokter spesialis kulit di fasilitas kesehatan yang selama ini didatangi.

Setelah diperiksa oleh dokter spesialis kulit yang kebetulan bertugas di RSK itu, Risdal ternyata didiagnosis scabies atau kudis. Setelah dua kali datang ke RSK, ia akhirnya berhasil mendapatkan salep pengobatan yang menyembuhkan rasa gatal dan infeksi di kedua tangannya. Berkat salep yang diberikan oleh dokter, Rindung mengaku penyakit yang diderita anaknya sudah tidak separah sebelumnya.

"Hari ini, alhamdulillah dokter di sini bilang anak saya sudah lebih baik kondisinya," kata Rindung, saat ditemui setelah menjalani pemeriksaan.

Baginya, kehadiran rumah sakit kapal bukan sekadar menyediakan pengobatan gratis, melainkan juga memberikan kesempatan bagi anaknya untuk mendapatkan penanganan medis yang sebelumnya sulit dijangkau.

Pengalaman Rindung menggambarkan persoalan yang masih dihadapi masyarakat di wilayah kepulauan, yakni keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan, terutama untuk kebutuhan pemeriksaan dan penanganan oleh dokter spesialis.

Relawan dokter dari Indonesia Healthcare Corporation (IHC), dr Nunung Agustiarini, mengatakan penyakit kulit menjadi salah satu keluhan yang banyak ditemukan selama pelayanan kesehatan di Kepulauan Kei.

Selain itu, tim medis juga menemukan cukup banyak kasus infeksi saluran pernapasan, penyakit yang membutuhkan tindakan bedah, serta penyakit degeneratif, seperti hipertensi dan diabetes melitus.

Sejumlah pasien, bahkan datang dengan kondisi penyakit yang telah berlangsung cukup lama. Keterbatasan fasilitas kesehatan dan tenaga medis menjadi salah satu faktor yang menyebabkan masyarakat belum memperoleh penanganan sesuai kebutuhan medisnya.

Hal serupa diungkapkan oleh dr Daniel, yang ditemui saat tengah menjalankan operasi bedah hernia atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai turun berok pada seorang pasien berusia 60 tahun.

Sambil menjahit pasien, ia bercerita bahwa banyak masyarakat di Kepulauan Kei yang datang dengan kondisi sudah parah, menandakan mereka yang selama ini sebagian besar bekerja di kebun terlalu sering mengangkat beban-beban berat.