Royke mengatakan skenario tersebut disusun berdasarkan pengalaman kebutuhan keamanan siber di industri sehingga peserta dapat berlatih membaca risiko, menyusun strategi, bekerja dalam tim, dan mengambil keputusan.
Ia berharap peserta tidak berhenti pada kompetisi, tetapi dapat berkembang menjadi tenaga profesional keamanan siber yang mampu memenuhi kebutuhan industri dalam negeri sekaligus bersaing di pasar global.
Penyelenggaraan kompetisi di Balige, menurut Royke, juga diarahkan untuk memperluas persebaran talenta keamanan siber agar pengembangan sumber daya manusia di bidang tersebut tidak hanya terpusat di Pulau Jawa.
Rektor IT Del Arnaldo Marulitua Sinaga mengatakan kerja sama perguruan tinggi dan industri dapat membantu mahasiswa memahami tantangan keamanan teknologi yang dihadapi dunia kerja.
“Upaya kita adalah membentuk talenta-talenta keamanan siber. Kita melihat pentingnya keamanan dalam bidang teknologi. IT Del juga ingin berkontribusi di bidang tersebut,” ujar Arnaldo.
Sebelumnya, Spentera juga menjalin kerja sama riset keamanan siber dengan Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada.
Perusahaan tersebut juga tengah menyiapkan program sertifikasi untuk membantu talenta mengembangkan kemampuan yang relevan dengan kebutuhan industri.