"Maka saya sangat yakin pemilu berikutnya, pemilu berikutnya, pasti terbaik. Saya menunggu tulisan Prof. Ramlan, menunggu tinjauan penelitian yang bisa mematahkan tesisnya Feith. Saya sangat yakin," kata Heddy.

"Demokrasi, ya pada waktu itu kita kan nggak melihat apakah ada penggiringan-penggiringan rakyat ke kotak suara? Apakah ada pengarahan-pengarahan rakyat ke kotak suara? Itu tidak diberitakan saja. Karena jumlah wartawannya juga masih sedikit," tambahnya.

Heddy mengatakan kondisi itulah yang terkadang membuat bias sebuah penelitian. Dia mengaku tak yakin dengan tesis Feith.

"Jadi hal semacam itu kadang-kadang yang membuat bias sebuah penelitian. Saya kira di sini banyak ilmuwan. Saya agak-agak nggak yakin dengan tesisnya Feith itu," ujarnya.

Sebelumnya, anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) RI, Totok Hariyono, menyebut pemilu terbaik terjadi pada 1955. Totok mengatakan penilaian itu berdasarkan literasi.