Keselamatan personel menjadi pertimbangan utama dalam setiap operasi. Medan terjal, keterbatasan akses, dan perubahan arah angin memerlukan pengaturan penugasan yang cermat, jalur evakuasi yang aman, serta dukungan peralatan dan logistik yang memadai. Kebutuhan dukungan udara untuk lokasi yang sulit dijangkau juga dikoordinasikan dengan pemerintah pusat, dengan memperhatikan kondisi cuaca dan keselamatan operasi.
Data menunjukkan penanganan kebakaran di Jawa Timur membutuhkan kerja bersama lintas pemerintah dan masyarakat, baik untuk pemadaman maupun pencegahan. Ketersediaan dukungan udara, kesiapan peralatan, pemantauan titik api, dan perlindungan personel menjadi bagian penting dalam mengendalikan kebakaran.
Selain langkah teknis, Khofifah juga mengajak masyarakat memperkuat ikhtiar spiritual melalui pelaksanaan salat istisqa untuk memohon turunnya hujan di tengah kondisi kekeringan yang melanda sejumlah daerah. Ajakan tersebut diperkuat melalui Surat Edaran Gubernur Jawa Timur Nomor 400.8.1/37860/011.2/2026 tentang Pelaksanaan Salat Istisqa yang ditetapkan pada 20 Oktober 2026.
Surat edaran itu mengajak bupati dan wali kota, pimpinan organisasi masyarakat Islam, pondok pesantren, ulama, tokoh agama, serta masyarakat untuk memfasilitasi pelaksanaan salat istisqa, memperbanyak doa dan istigfar, serta membantu warga yang terdampak kekeringan, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan air bersih.
Khofifah menekankan upaya menghadapi kekeringan dan kebakaran perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari kesiapsiagaan pemerintah, keterlibatan masyarakat, hingga kepedulian dalam menjaga lingkungan.
Ia berharap masyarakat semakin waspada terhadap potensi kebakaran dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu munculnya titik api. Terlebih, berdasarkan prakiraan BMKG, musim hujan di Jawa Timur diperkirakan berlangsung pada November hingga Februari, sehingga langkah mitigasi perlu dilanjutkan untuk menghadapi potensi bencana pada masa peralihan musim.
"Intinya, ayo kita jaga bersama alam ini. Kalau kita menjaga alam, alam akan menjaga kita," tegas Kofifah.
Sementara itu, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menyampaikan terima kasih atas dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, termasuk bantuan operasi udara yang turut diarahkan untuk menangani kebakaran di TPA Supit Urang.
"Seharusnya water bombing menangani lokasi lain, tetapi diarahkan ke TPA Supit Urang. Penanganan kebakaran sampah ini lebih sulit jika dilakukan secara manual. Pembasahan di bagian atas saja tidak cukup karena bara api di bagian bawah juga harus dipadamkan," ujar Wahyu.
Wahyu menjelaskan, berdasarkan kronologi awal, kebakaran diduga bermula dari aktivitas pembakaran di sisi selatan area TPA. Kondisi angin yang kencang kemudian diduga mempercepat perambatan api ke area sekitarnya.
"Secara kronologis, asal muasal terjadinya kebakaran lalu angin nya kencang akhirnya percikan api yang diawali pembakaran sebelah selatan, hingga mempercepat pembakaran jadi lebih merambat," pungkasnya.
Terkait penyebab kebakaran, Wahyu menyebut adanya dugaan pembakaran yang disengaja untuk membuka lahan. Namun, penyebab pasti kejadian tersebut masih dalam proses penyelidikan dan penanganannya dilakukan oleh Polresta Malang Kota.