NADIKABAR.COM — Dalam khutbah Jumat ini, penulis coba mengajak pembaca merenungi makna Lelananging Jagat versi Islam. Lelananging Jagat adalah sebuah istilah adiluhung yang populer dalam budaya Jawa. Istilah ini biasanya disematkan kepada seorang pria yang memiliki sejumlah kelebihan, baik materi maupun rupa.

Secara harfiah, Lelananging Jagat bisa bermakna pria yang menguasai dunia, sosok lelaki tangguh yang memiliki kekuatan, pengaruh, kehebatan, dan disegani oleh seluruh alam. Banyak orang mengejar predikat ini dengan menumpuk harta, berburu kekuasaan, atau memburu popularitas.

Dalam khutbah Jumat ini, penulis coba mengajak pembaca merenungi makna Lelananging Jagat versi Islam. Bukan tentang harta dan tahta, tapi tentang lelaki yang mampu mengalahkan hawa nafsu dan memakmurkan subuh. Semoga menjadi pengingat agar kita tidak bangkrut di hadapan Allah karena lalai di sepertiga malam terakhir.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللّٰهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Jamaah Salat Jumat yang Dirahmati Allah

Marilah kita tingkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah SWT. Takwa adalah benteng pertahanan terbaik seorang hamba dalam mengarungi dinamika kehidupan dunia, sekaligus menjadi satu-satunya perbekalan yang akan dibawa menghadap Sang Pencipta.

Dalam budaya Jawa, terdapat sebuah istilah adiluhung yang kerap disematkan kepada sesosok laki-laki sejati, yaitu Lelananging Jagat. Secara harfiah, istilah ini bermakna pria yang menguasai dunia, sosok lelaki tangguh yang memiliki kekuatan, pengaruh, kehebatan, dan disegani oleh seluruh alam. Banyak orang mengejar predikat ini dengan menumpuk harta, berburu kekuasaan, atau memburu popularitas.

Namun, mari kita renungkan kembali dari kacamata syariat Islam. Siapakah sosok Lelananging Jagat yang hakiki di hadapan Allah SWT?

Rasulullah SAW memberikan panduan yang sangat jelas dan rasional mengenai bagaimana seorang hamba bisa memiliki dunia beserta seluruh isinya. Bukan dengan menjadi raja, bukan pula dengan memimpin konglomerasi bisnis global, melainkan dengan menjaga dua rakaat sebelum fajar.

Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

artinya: "Dua rakaat salat sunnah subuh (qobliyah subuh) itu lebih baik daripada dunia dan segala isinya." (HR. Muslim)

Waktu fajar atau subuh memiliki kedudukan yang sangat mulia di dalam Al-Qur'an. Begitu agungnya waktu ini hingga Allah SWT bersumpah atas nama fajar dan subuh di berbagai tempat dalam kitab suci-Nya. Di antaranya Allah SWT berfirman dalam Surah At-Takwir ayat 18:

Artinya: "Dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing." (QS. At-Takwir: 18)

Bahkan dalam Surah Al-Isra' ayat 78, Allah SWT memberikan penegasan khusus mengenai keistimewaan ibadah di waktu fajar:

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

Artinya: "Dirikanlah salat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula salat) Subuh. Sesungguhnya salat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat)." (QS. Al-Isra': 78)

Mengapa fajar menjadi momentum yang begitu krusial? Karena di waktu inilah ujian terberat bagi seorang manusia berlangsung. Fajar adalah medan tempur spiritual tempat bertemunya rasa kantuk, kehangatan tempat tidur, dan bisikan hawa nafsu dengan ketaatan seorang hamba kepada Rabb-nya.

Jika dua rakaat sunnahnya saja sudah bernilai lebih baik daripada dunia beserta seluruh isinya, lantas bagaimanakah dengan ibadah pokoknya, yaitu Salat Subuh Berjemaah di Masjid?

Kesempurnaan sosok Lelananging Jagat tidak berhenti pada dua rakaat qobliyah di rumah atau di masjid, tetapi berlanjut dengan merapatkan shaf pada salat Subuh berjemaah di rumah Allah. Rasulullah SAW memberikan jaminan perlindungan penuh dari Allah SWT bagi orang yang melangkahkan kakinya menunaikan salat Subuh berjemaah. Beliau bersabda:

مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللّٰهِ

Artinya: "Barangsiapa yang salat Subuh (berjemaah), maka ia berada dalam jaminan perlindungan Allah." (HR. Muslim)

Bayangkan, jamaah sekalian! Orang yang menjaga qobliyah subuh mendapatkan pahala melampaui isi dunia, dan ketika ia melanjutkan dengan salat Subuh berjemaah di masjid, ia berada di bawah perlindungan dan garansi keamanan langsung dari Allah SWT sepanjang hari. Bukankah ini gambaran nyata dari seorang penguasa dunia yang sesungguhnya? Ia dilindungi oleh Penguasa Semesta Alam.

Bahkan, melangkahkan kaki di kegelapan subuh menuju masjid adalah simbol keperkasaan iman seorang laki-laki. Rasulullah SAW memberikan kabar gembira dalam hadisnya:

بَشِّرِ الْمَشَّائِيْنَ فِي الظُّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّوْرِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya: "Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan dalam kegelapan menuju masjid-masjid, bahwa mereka akan mendapatkan cahaya yang sempurna pada hari kiamat." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Sebaliknya, Al-Qur'an mengingatkan kita agar tidak menjadi golongan orang yang kerdil karena kalah oleh hawa nafsu dan menyia-nyiakan kewajiban salat. Allah SWT berfirman dalam Surah Maryam ayat 59:

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

Artinya: "Maka datanglah setelah mereka, pengganti yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan." (QS. Maryam: 59)

Jamaah yang Sama-sama Mengharap Rahmat Allah

Gelar Lelananging Jagat versi syariat Islam tidak memerlukan stempel manusia, jubah kebesaran, atau kekayaan melimpah. Keperkasaan seorang lelaki muslim dinilai dari kriteria spiritualnya:

1. Keperkasaan Menundukkan Nafsu: Pria sejati adalah yang sanggup menyingkap selimut tebal, mengambil wudhu, dan mengalahkan rasa malas di waktu fajar.2. Kecerdasan Berinvestasi: Ia merawat dua rakaat qobliyah subuh karena tahu nilainya melampaui harta kekayaan dunia yang fana.3. Keteguhan Melangkah ke Rumah Allah: Ia mengokohkan imannya dengan berjalan menuju masjid untuk mendirikan salat Subuh berjemaah, memakmurkan rumah Allah, dan mengikatkan dirinya dalam perlindungan Sang Maha Pencipta.

Marilah kita luruskan kembali arah perjuangan hidup kita. Jangan sampai kita mengejar reputasi kehebatan duniawi hingga lelah, namun justru bangkrut dan kerdil di hadapan Allah SWT karena mengabaikan subuh. Jadilah lelaki sejati yang mampu menundukkan hawa nafsu, menguasai dunia sebelum matahari terbit melalui dua rakaat qobliyah subuh, dan menyempurnakannya dengan salat Subuh berjemaah di masjid.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلٰى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلٰى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَاللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إلَى رِضْوَانِهِ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى.

وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يُحَافِظُوْنَ عَلٰى الصَّلَوَاتِ فِي الْمَسَاجِدِ جَمَاعَةً.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَاللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.

Naskah Khutbah Jumat ini disusun oleh Erwin Dariyanto, Redaktur Pelaksana detikHikmah.

Seluruh materi khutbah menjadi tanggung jawab penulis. Tidak mewakili sikap instansi di mana penulis berkarya. (Terimakasih - Redaksi)