NADIKABAR.COM — Komisi Informasi (KI) DKI Jakarta menilai pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dapat mengoptimalkan distribusi informasi publik agar lebih luas, akurat, dan merata.

Wakil Ketua KI DKI Jakarta Luqman Hakim Arifin dalam Diskusi Kelompok Terpumpun (FGD) bertajuk "Keterbukaan Informasi Publik di Era AI: Peran Pers dan Media Siber" di Jakarta, Senin, mengatakan tren konsumsi informasi masyarakat saat ini telah bergeser ke platform berbasis kecerdasan buatan.

"Konsumsi informasi masyarakat di era AI saat ini mengalami perubahan. Kalau dulu mungkin orang mengakses berita di situs web, tetapi saat ini justru bergeser ke AI Overview. Karena itu, berita-berita yang ada di KI mesti dibuat dengan mempertimbangkan tren AI ini," kata Luqman dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Dia pun menegaskan pelaksanaan FGD tersebut merupakan momentum penting untuk memperoleh wawasan dan rekomendasi dalam memperkuat Keterbukaan Informasi Publik (KIP) di era digital, yang memiliki keterkaitan erat dengan insan pers dalam penyebarluasan informasi.

Sementara itu, narasumber FGD Ilona Juwita menuturkan AI kini bertransformasi menjadi salah satu sumber utama masyarakat dalam mencari berita.

"Mengutip data Reuters Institute Digital News Report 2026, sebanyak 12 persen masyarakat Indonesia telah menggunakan AI Chatbot sebagai sumber berita mingguan, yang menempatkan Indonesia di peringkat ke-4 dunia," tutur Ilona.

Tingkat kepercayaan pengguna setelah mencoba AI, kata dia, mencapai 44 persen, dan 33 persen masyarakat Indonesia mengakses ChatGPT setiap bulannya.

"Perubahan perilaku ini memicu fenomena zero-click, di mana 68 persen pencarian di Amerika Serikat pada awal 2026 berakhir tanpa klik ke situs web. Meskipun konten dikutip oleh AI, belum tentu menghasilkan traffic langsung ke media. Oleh karena itu, kita perlu beradaptasi dari sekadar SEO (Search Engine Optimization) menuju GEO (Generative Engine Optimization)," terang Ilona.

Lebih lanjut, dia menjelaskan kerangka GEO mengutamakan fakta yang jelas, struktur teruji, serta kredibilitas tinggi berbasis prinsip Experience, Expertise, Authoritativeness, dan Trustworthiness. Media lokal yang menyajikan reportase langsung (first-hand) dan isu hyperlocal dinilai memiliki keunggulan struktural untuk dilirik oleh sistem AI.

Dalam kesempatan yang sama, narasumber dari PWI Jaya Penerus Bonar menekankan pentingnya kolaborasi antara Komisi Informasi dan media untuk mengarusutamakan KIP agar mampu masuk ke dalam ekosistem pencarian berbasis AI, seperti AI Overview. Namun, ia mengingatkan penggunaan AI dalam produksi berita tetap memerlukan verifikasi manusia.

"AI ini alat bantu saja, tetap butuh verifikasi. Karena pada akhirnya, yang bertanggung jawab adalah penulisnya, bukan AI," pungkas Bonar.