NADIKABAR.COM — Hubungan romantis dengan pasangan yang memiliki gangguan mental membutuhkan komunikasi terbuka, pemahaman, dan batasan yang sehat agar kedua pihak dapat saling mendukung tanpa mengabaikan kebutuhan masing-masing.
Pendidik seksualitas holistik sekaligus pelatih hubungan dan keintiman Lauren Elise Rogers mengatakan, hubungan yang sehat perlu dibangun dengan tanggung jawab pribadi dan dukungan dari lingkungan sekitar.
Mengutip Psychology Today, Minggu (18/10) waktu setempat, Rogers menjelaskan bahwa pasangan sebaiknya tidak menjadikan hubungan romantis sebagai satu-satunya sumber dukungan emosional. Keluarga, teman, komunitas, dan tenaga profesional dapat menjadi bagian dari sistem dukungan yang membantu seseorang menghadapi tantangan kesehatan mental.
Menurut dia, pasangan perlu tetap menjaga rutinitas yang mendukung kesejahteraan masing-masing, seperti berolahraga, menjalani terapi, menekuni hobi, dan menjaga pola makan. Pada tahap awal hubungan, pasangan dapat mengatur frekuensi pertemuan agar kegiatan tersebut tetap berjalan.
Pendekatan ini membantu kedua pihak membangun hubungan yang saling mendukung tanpa menjadi terlalu bergantung satu sama lain. Kedekatan emosional tetap dapat tumbuh tanpa mengharuskan pasangan menghabiskan seluruh waktu bersama.
Rogers juga menekankan pentingnya memahami batas kemampuan masing-masing. Memberikan dukungan kepada pasangan berbeda dengan mengambil alih seluruh tanggung jawab atas kondisi kesehatan mentalnya.
Jika pasangan membutuhkan bantuan profesional, seseorang dapat menawarkan dukungan untuk mengakses layanan yang sesuai tanpa menempatkan diri sebagai terapis atau penyembuh. Kedua pihak juga perlu membicarakan kebutuhan, harapan, dan batasan mereka secara terbuka.
Bagi orang yang memiliki gangguan mental, tanggung jawab terhadap perawatan diri tetap menjadi bagian penting dalam hubungan. Sementara itu, pasangannya dapat memberikan dukungan tanpa harus mengesampingkan kebutuhan pribadi.
Rogers menilai hubungan jangka panjang dapat berkembang dengan baik ketika kedua pihak memiliki dukungan di luar hubungan, saling menghormati kemandirian, dan bersedia memperbaiki masalah bersama.
Ia menegaskan bahwa hubungan yang sehat tidak menuntut seseorang menjadi sempurna. Kejujuran, kepercayaan, serta kesediaan untuk memahami perbedaan menjadi bagian penting dalam membangun kedekatan yang berkelanjutan.
Penerjemah: Farika Nur Khotimah