Nenek Riska, yang awalnya membuka warung nasi biasa, kerap menerima permintaan khusus dari para pegawai Kereta Api Indonesia (KAI). Para masinis dan staf stasiun yang baru menyelesaikan sif kerja sekitar pukul 10 atau 11 malam sering kali kesulitan mencari pengganjal perut.

"Awal mulanya sebenarnya Perkedel Bondon ini dibikinnya enggak sengaja. Dulu di Stasiun Bandung masih jarang kereta antarkota, perjalanan jauh. Belum ada kantin juga," ungkapnya.

"Karena memang kalau mereka pulang jam 10 sampai jam 11 malam tuh belum ada makanan," lanjut Riska.

Sang nenek kemudian meramu resep perkedel kentang yang praktis, mengenyangkan, dan mudah dibawa. Tak disangka, camilan sederhana ini justru menjadi primadona. Popularitasnya meluas, tak hanya di kalangan internal pegawai kereta, tapi juga merambah ke warga yang masih beraktivitas di sekitar stasiun pada larut malam.

Menariknya, nama 'Bondon' sendiri bukan datang dari sang pemilik, melainkan lahir dari lisan para pelanggan. Pada masa itu, kawasan sekitar stasiun memang dikenal sebagai titik berkumpulnya para pekerja malam. Karena kedai ini baru beroperasi saat malam larut, sebutan tersebut perlahan melekat dan menjadi merek yang tak terpisahkan.

"Benar-benar karena konsumen sebenarnya. Karena kan awalnya tuh disediakan untuk masinis dan pegawai KAI yang lain. Karena memang buka-nya malam hari, dan di situ tahun itu banyak banget yang 'mangkal', akhirnyalah kecetus aja 'Bondon'," tutur Riska.