Meski sempat memiliki nama resmi seperti 'Warung Nasi Emun' atau dikenal sebagai 'Perkedel Stasiun', lidah masyarakat rupanya lebih nyaman menyebutnya Perkedel Bondon.

"Nah tapi yang lebih populernya ya Perkedel Bondon. Jadi itu yang diangkat. Sempat juga mau dinamai Perkedel Bondon Warung Nasi Emun. Tapi yang terkenalnya Perkedel Bondon, ya udah kita ganti nama, nggak apa-apa," ucapnya.

Hampir empat dekade berlalu, Riska memikul tanggung jawab besar untuk menjaga warisan rasa sang nenek. Salah satu tradisi yang haram untuk diubah adalah penggunaan arang kayu dalam proses penggorengan. Meski saat ini mencari pasokan arang bukan perkara mudah, Riska tetap bersikukuh demi mempertahankan aroma smoky yang khas.

"Sampai sekarang kita masih pakai arang, tetap dipertahankan. Karena kalau dimasak pakai arang dari kayu bakar itu jadi ada wangi asapnya, ada 'smoky'-nya," jelasnya.

Selain cara memasak, Riska juga enggan menggeser jam operasionalnya. Baginya, sensasi menyantap perkedel hangat di tengah kesunyian malam Stasiun Bandung adalah bagian dari nyawa usaha ini yang harus terus dipertahankan.

"Kita tetap harus pertahankan itu. Tetap di jam itu. Jam 10 malam baru buka," pungkasnya.