"Saya harus menempuh lebih dari 1,5 jam untuk mendapatkan koneksi internet, karena saya tinggal di perkebunan sawit yang jauh dari akses internet dan sangat tertinggal," ujarnya.

"Harus UMY, karena UMY adalah satu-satunya kampus yang sudah ada di dalam keinginan saya, dan setelah mengikuti rangkaian seleksi dan tesnya, qadarullah alhamdulillah lolos," ujar Fina.

Kepala Subdirektorat Admisi UMY, Dr Imam Mahdi, menjelaskan Program beasiswa dokter ini tidak bertumpu pada indikator keluarga kurang mampu saja. Hal ini dibuktikan dengan ketat dan panjangnya proses seleksi calon penerima beasiswa.

Total lima tahapan harus dilewati calon mahasiswa. Mulai dari seleksi berkas yang langsung tersaring 20 terbaik. Kemudian tes kemampuan akademik, lanjut tes Agama Islam dan Kemuhammadiyahan, lalu tes wawancara dengan universitas dan prodi, terakhir verifikasi langsung ke rumahnya.

"Ini layak nggak sih? Tetangga lihat dia gimana, gitu. Jadi tidak hanya verifikasi 'Oh saya seperti ini', tapi dengan lingkungan dia seperti apa. Apa gunanya kita ngasih beasiswa tidak berdampak positif terhadap lingkungan?," ujar Imam kepada detikJogja.

"Jadi ini beasiswa tidak dalam konteks hanya dia intelektual, tidak, tapi bagaimana sosialnya seperti apa. Indikator utama malah sebenarnya di intelektual dia sama kepedulian sosial masyarakatnya. Kita nggak mau ngasih beasiswa akhirnya dia jadi bussinesman, ngapain? Rugi kita," imbuhnya.

Imam pun memerinci nilai dari Fina yang membuatnya lolos seleksi beasiswa ini. Ia kebetulan menjadi perwakilan UMY yang memverifikasi langsung ke tempat tinggal Fina. Imam menceritakan background keluarga Fina yang membuatnya takjub.

"Fina ini sebenarnya broken home, Bapak ibunya cerai sebenarnya, tapi semangatnya luar biasa. Fina itu bahkan, ya tahun kemarin waktu gap year, ibunya nyuruh dia nikah, bapaknya nggak mau, makanya bapaknya narik dia biar bisa belajar fokus," ujar Imam.