"Yang unik adalah di saat orang ada isu mental health, broken home, OVT, anxiety, macam-macam penyakit Gen Z itu, itu nggak ada dalam diri dia. Dia tetap optimis, itu yang membuat kita yakin 'Oh ini layak' gitu," sambungnya.

Imam menyebut sejak kecil, Fina tidak dirawat orang tuanya langsung, karena dititipkan ke panti asuhan. Hal itu karena sang ibu harus bekerja di luar negeri dan ayahnya sibuk bekerja. Namun kondisi itu tidak menjatuhkan mental Fina sama sekali.

"Dia ini juga dulu di panti asuhan sejak kecil banget. Ibunya tuh merantau ke Malaysia atau Singapura saya lupa, terus ditaruh di panti asuhan Muhammadiyah. Tapi dia tetap bisa berkembang, makanya survive-nya tuh ngeri. Dan, kita kan kalau ketemu orang kayak gitu kan udah down mentalnya. Apalagi nggak kuliah 1 tahun dia tetap jadi ngajar," terangnya.

Imam menilai Fina juga memiliki optimisme dan kepercayaan diri yang luar biasa. Selain itu, Fina juga pintar karena terbukti lolos tes akademik. Fina tak berhenti belajar di tengah kesibukannya mengajar.

"Ketika saya pertama wawancara, ya kan dia masih (mengajar) di sekolah, saya lihat bahwa optimisnya tinggi nian dan PD (percaya diri), itu sulit itu, dia optimis dan PD," ungkap Imam.

"Iseng-iseng saya tanya, 'kamu kapan belajar?' Kan pasti tes kita kan berat sebenarnya, 'Ya itu Pak kalau saya ngajar sampai sore ya kan, udah saya istirahat, malam saya belajar', dia belajar malam," paparnya.

Kini Fina tinggal mewujudkan mimpinya menjadi dokter. Ia menerima beasiswa penuh program dokter senilai Rp 1,2 miliar, yang mencakup biaya kuliah full, living cost, biaya buku, biaya karya ilmiah, hingga biaya ko-asisten dalam tahap pendidikan profesi.

"Full udah gratis dari awal sampai akhir, living cost juga sudah masuk, terus kemudian beberapa poin yang lain juga kita cover semuanya," pungkas Imam.