NADIKABAR.COM — Qul Robbi Alfina Rohmah menjadi salah satu dari lima penerima beasiswa program dokter dan dokter gigi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Tahun Akademik 2026/2027. Perjuangan Fina meraih beasiswa Rp 1,2 miliar untuk kuliah ini pun tak mudah.
Fina adalah lulusan SMA Muhamadiyah 1 Metro, Lampung, tahun ajaran 2024/2025. Anak kedua dari tiga bersaudara ini sudah sejak lama bercita-cita menjadi dokter. Sang ibu yang mengidap kanker payudara menjadi motivasi besarnya.
"Iya ibu saya sakit kanker payudara, (termotivasi jadi dokter) karena melihat keluarga saya banyak yang mempunyai riwayat sakit yang cukup berat, dan membutuhkan perawatan intensif dari pihak dokter," terang Fina kepada detikJogja di Sportorium UMY, Bantul, Sabtu (5/9/2026).
"Karena menurut saya menjadi seorang dokter bukan hanya tentang profesi, tapi merupakan salah satu perpanjangan tangan yang diutus oleh Allah untuk menyelamatkan jiwa yang membutuhkan," sambungnya.
Namun, Fina sadar betul jalan meraih cita-citanya itu sungguh panjang. Tak ayal, ayah Fina hanya bekerja sebagai buruh di perkebunan sawit. Fina pun mengejar cita-citanya lewat program beasiswa UMY.
Fina pertama kali mendaftar program beasiswa dokter ini pada tahun 2025 lalu. Namun, saat itu ia dinyatakan gugur setelah menjalani proses seleksi yang cukup panjang.
"Pada akhir seleksi Fina dinyatakan gugur, namun saat itu Fina nggak buru-buru memutuskan kuliah, saya putuskan untuk gap year setahun," ungkap Fina.
"Fina memutuskan untuk jadi guru dan staf tata usaha di sebuah sekolah, gajinya Rp 600 per bulan," kenangnya.
Alih-alih mengubur cita-citanya, Fina pun kembali mendaftar program beasiswa dokter UMY tahun ini. Perjuangannya tak mudah, namun dia senang karena kali ini berbuah manis.
"Saya harus menempuh lebih dari 1,5 jam untuk mendapatkan koneksi internet, karena saya tinggal di perkebunan sawit yang jauh dari akses internet dan sangat tertinggal," ujarnya.
"Harus UMY, karena UMY adalah satu-satunya kampus yang sudah ada di dalam keinginan saya, dan setelah mengikuti rangkaian seleksi dan tesnya, qadarullah alhamdulillah lolos," ujar Fina.
Kepala Subdirektorat Admisi UMY, Dr Imam Mahdi, menjelaskan Program beasiswa dokter ini tidak bertumpu pada indikator keluarga kurang mampu saja. Hal ini dibuktikan dengan ketat dan panjangnya proses seleksi calon penerima beasiswa.
Total lima tahapan harus dilewati calon mahasiswa. Mulai dari seleksi berkas yang langsung tersaring 20 terbaik. Kemudian tes kemampuan akademik, lanjut tes Agama Islam dan Kemuhammadiyahan, lalu tes wawancara dengan universitas dan prodi, terakhir verifikasi langsung ke rumahnya.
"Ini layak nggak sih? Tetangga lihat dia gimana, gitu. Jadi tidak hanya verifikasi 'Oh saya seperti ini', tapi dengan lingkungan dia seperti apa. Apa gunanya kita ngasih beasiswa tidak berdampak positif terhadap lingkungan?," ujar Imam kepada detikJogja.
"Jadi ini beasiswa tidak dalam konteks hanya dia intelektual, tidak, tapi bagaimana sosialnya seperti apa. Indikator utama malah sebenarnya di intelektual dia sama kepedulian sosial masyarakatnya. Kita nggak mau ngasih beasiswa akhirnya dia jadi bussinesman, ngapain? Rugi kita," imbuhnya.
Imam pun memerinci nilai dari Fina yang membuatnya lolos seleksi beasiswa ini. Ia kebetulan menjadi perwakilan UMY yang memverifikasi langsung ke tempat tinggal Fina. Imam menceritakan background keluarga Fina yang membuatnya takjub.
"Fina ini sebenarnya broken home, Bapak ibunya cerai sebenarnya, tapi semangatnya luar biasa. Fina itu bahkan, ya tahun kemarin waktu gap year, ibunya nyuruh dia nikah, bapaknya nggak mau, makanya bapaknya narik dia biar bisa belajar fokus," ujar Imam.
"Yang unik adalah di saat orang ada isu mental health, broken home, OVT, anxiety, macam-macam penyakit Gen Z itu, itu nggak ada dalam diri dia. Dia tetap optimis, itu yang membuat kita yakin 'Oh ini layak' gitu," sambungnya.
Imam menyebut sejak kecil, Fina tidak dirawat orang tuanya langsung, karena dititipkan ke panti asuhan. Hal itu karena sang ibu harus bekerja di luar negeri dan ayahnya sibuk bekerja. Namun kondisi itu tidak menjatuhkan mental Fina sama sekali.
"Dia ini juga dulu di panti asuhan sejak kecil banget. Ibunya tuh merantau ke Malaysia atau Singapura saya lupa, terus ditaruh di panti asuhan Muhammadiyah. Tapi dia tetap bisa berkembang, makanya survive-nya tuh ngeri. Dan, kita kan kalau ketemu orang kayak gitu kan udah down mentalnya. Apalagi nggak kuliah 1 tahun dia tetap jadi ngajar," terangnya.
Imam menilai Fina juga memiliki optimisme dan kepercayaan diri yang luar biasa. Selain itu, Fina juga pintar karena terbukti lolos tes akademik. Fina tak berhenti belajar di tengah kesibukannya mengajar.
"Ketika saya pertama wawancara, ya kan dia masih (mengajar) di sekolah, saya lihat bahwa optimisnya tinggi nian dan PD (percaya diri), itu sulit itu, dia optimis dan PD," ungkap Imam.
"Iseng-iseng saya tanya, 'kamu kapan belajar?' Kan pasti tes kita kan berat sebenarnya, 'Ya itu Pak kalau saya ngajar sampai sore ya kan, udah saya istirahat, malam saya belajar', dia belajar malam," paparnya.
Kini Fina tinggal mewujudkan mimpinya menjadi dokter. Ia menerima beasiswa penuh program dokter senilai Rp 1,2 miliar, yang mencakup biaya kuliah full, living cost, biaya buku, biaya karya ilmiah, hingga biaya ko-asisten dalam tahap pendidikan profesi.
"Full udah gratis dari awal sampai akhir, living cost juga sudah masuk, terus kemudian beberapa poin yang lain juga kita cover semuanya," pungkas Imam.