"Tetapi sekarang tidak lagi," balas malaikat kedua. "Doanya ditolak karena empat bulan lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat Masjidil Haram," lanjutnya.
Mendengar percakapan ghaib itu, dada Ibrahim terasa sesak. Ia pun terperanjat menyadari bahwa selama empat bulan terakhir, ibadah, salat dan doa-doanya terhalang hanya karena sebutir kurma yang belum sah menjadi haknya.
Sambil mengucap istighfar berkali-kali, ia langsung berbenah. Tanpa menunda waktu, Ibrahim melangkahkan kembali kakinya menempuh perjalanan menuju Makkah demi mencari pedagang tua itu.
Sesampainya di sudut Masjidil Haram, Ibrahim tak lagi mendapati sang pedagang tua, melainkan seorang pemuda yang sedang melayani pembeli. Pemuda itu mengabarkan bahwa ayahnya telah berpulang ke rahmatullah sebulan yang lalu.
Dengan hati yang cemas, Ibrahim menceritakan kekhilafannya empat bulan lalu dan memohon agar pemuda tersebut berkenan menghalalkan sebutir kurma milik almarhum ayahnya.
"Bagi saya tidak masalah, Insya Allah saya halalkan," ujar pemuda itu santun.