"Namun saya memiliki 11 orang saudara. Saya tidak berani mengatasnamakan mereka karena kami semua memiliki hak waris yang sama," lanjutnya.

Ibrahim tak berkecil hati. Ia pun segera meminta alamat seluruh saudara pemuda tersebut, lalu mendatangi mereka satu per satu meski harus menelusuri pemukiman yang saling berjauhan. Kegigihan dan ketulusan Ibrahim meluluhkan hati seluruh ahli waris, hingga akhirnya mereka semua ikhlas menghalalkan sebutir kurma tersebut.

Empat bulan kemudian, Ibrahim bin Adham telah kembali berada di bawah Kubah Sakhra, Masjid Al-Aqsa. Di tengah sujud dan kekhusyukan ibadahnya, suara dua malaikat yang dulu kembali terdengar bercakap-cakap.

"Itulah Ibrahim bin Adham yang doanya tertolak gara gara makan sebutir kurma milik orang lain," ujar malaikat pertama.

"Sekarang doanya sudah makbul. Ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma tersebut. Diri dan jiwanya pun kembali bersih dari kesalahan itu. Kini ia telah terbebas," jawab malaikat lainnya.

Kisah Ibrahim bin Adham ini menjadi pengingat untuk selalu memastikan bahwa apa yang dikonsumsi atau dimiliki benar-benar diperoleh secara halal dan atas izin pemiliknya.