"Kami ingin menggambarkan dalam MTQ ini ada kaitannya dengan penyebaran agama Islam, kemudian ada sedikit terang-gelap, ada kebaikan dan kejahatan," tuturnya.
Cahaya lentera yang dibawa oleh penari tersusun rapi menjadi lafaz Allah SWT di tengah lapangan. Formasi ini merupakan simbol penting dari datangnya ajaran agama untuk menyinari kehidupan masyarakat Jawa kala itu.
"Cahaya terang itu menyinari tanah Jawa ini, agama Islam memberikan pencerahan di wilayah Jawa," ungkapnya.
Jejak sejarah penyebaran tersebut turut diperkaya dengan unsur budaya khas Kota Semarang. Akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa diwujudkan secara apik melalui atraksi barongsai, liong, serta tarian bedhaya.
"Kita merepresentasikan ada kapal Cheng Ho, karena wilayah Semarang terkenal sekali hadirnya kapal Cheng Ho," lanjutnya.
Pertunjukan ini melibatkan 300 penari dari kalangan mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) dan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Persiapan pertunjukan kolosal ini ternyata dilakukan dalam waktu yang cukup singkat.