"FTSL tuh dapat ruangannya beberapa di atas. Nah kalau ini tuh cuma akunya doang yang dipindahin jadi masuk ke kelas fakultas lain. Jadi kayak Matematikanya, Matematika anak FITB ( Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian). Praktikumnya sama anak MIPA (Fakultas Matematika dan IPA). Sebenernya agak kurang FTSL sih, merasanya jadinya," tuturnya.

Di tengah isu aksesibilitas ini, ia mengaku terkesan atas kebaikan rekan-rekan di kampus. Natasha bercerita, teman-temannya sempat membantu mengangkatnya di atas kursi roda lewat tangga saat tidak ada lift ke ruang kuliah.

"Yang cukup berkesan ya, kayak kalau harus diangkat-angkat gitu, dibantuin temen naik tangga. Bahkan tangga gedung SAPPK (Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan ITB) gitu-gitu," ujarnya.

"Liftnya ada, tapi ternyata cuma sampai lantai 5 dan kelasnya di GSG (Gedung Serba Guna) lantai 6. Terus waktu itu lagi puasa, tapi katanya kayak 'Yaudah gapapa,' gitu," sambung Natasha.

Berangkat dari isu aksesibilitas di kampus, Natasha menggarap tugas akhir berjudul Analisis Konektivitas dan Aksesibilitas Jalur Pedestrian bagi Penyandang Disabilitas (Pengguna Alat Bantu Jalan) di kawasan Kampus ITB Ganesha.

Penelitian Natasha mengidentifikasi konektivitas dan aksesibilitas jaringan jalur pedestrian yang telah ada. Dari situ, ia juga merumuskan kebijakan perbaikannya.