Salah satu pengurus PWKI Sukamara, Tata Riani (50), mengatakan rombongannya sebelumnya mengikuti kegiatan PWKI di Denpasar, Bali. Mereka kemudian melakukan perjalanan pulang dengan rute Denpasar-Surabaya-Pangkalan Bun, tetapi penerbangan dari Surabaya harus ditunda.

"Kami dapat informasi sejak tadi malam. Penerbangan ditunda karena aktivitas gunung berapi dan abu vulkanik," kata Tata kepada NadiKabar, Senin (7/9/2026).

Tata mengatakan pihak maskapai untuk sementara menyampaikan penerbangan baru dapat dilakukan pada 9 September. Namun, hingga kini belum ada kepastian apakah penerbangan tersebut benar-benar dapat dilaksanakan.

"Katanya ditunda sampai tanggal 9, tapi belum ada kepastian juga tanggal 9 itu bisa terbang atau tidak," ujarnya.

Penundaan tersebut membuat 14 anggota PWKI harus memperpanjang masa tinggal di Surabaya dan diperkirakan bermalam dua malam lagi sembari menunggu kepastian penerbangan. Mereka juga sempat mencari penerbangan alternatif, tetapi harga tiket yang tersedia telah melonjak hingga lebih dari Rp 2 juta per orang.

"Ada tiga penerbangan alternatif, tapi harganya sudah lebih dari Rp 2 juta per orang. Kami juga belum tahu apakah tersedia dan apakah bisa dilakukan pergantian pesawat," jelasnya.

Selain biaya tiket, rombongan harus menanggung biaya tambahan untuk penginapan dan konsumsi selama tertahan di Surabaya. Mereka juga perlu kembali mengurus izin kerja karena jadwal kepulangan berubah.

"Kami harus bertahan, mengeluarkan biaya lagi, harus izin kerja lagi. Sampai saat ini belum ada kepastian," keluh Tata.

Rombongan tersebut berharap maskapai segera memberikan kepastian jadwal penerbangan agar mereka dapat kembali ke Pangkalan Bun.

"Kami masih terlunta-lunta. Belum tahu nasib kami kapan bisa pulang," pungkasnya.

Di tengah gangguan penerbangan tersebut, Bandara Internasional Juanda memperpanjang operasional menjadi 24 jam pada 6-7 September 2026. Kebijakan tersebut dilakukan untuk mendukung rotasi dan konektivitas penerbangan di tengah gangguan operasional sejumlah bandara akibat dampak abu vulkanik.

General Manager Bandara Internasional Juanda Muhammad Tohir mengatakan, kebijakan itu sesuai dengan NOTAMN A3353/26. Juanda menjadi salah satu bandara alternatif untuk membantu kelancaran operasional penerbangan.

"Bandara Internasional Juanda beroperasi 24 jam mulai dari 6 sampai 7 September 2026. Juanda menjadi salah satu bandara alternatif yang digunakan untuk mendukung kelancaran rotasi dan konektivitas pesawat," kata Tohir dalam keterangannya, Senin (7/9/2026).