Devi mengatakan meskipun usaha kemenyan baru dimulai November 2025 tahun lalu, penjualannya meningkat pesat. Ia menyebut kalau dulu yang order hanya satu, tetapi sekarang diperkirakan tiga sampai tujuh pesanan per minggunya.
"Bisnisku masih baru, dimulai bulan November 2025 tahun lalu. Penjualan meningkat pastinya karena di Shopee penjualanku sudah ada seratus transaksi. Dulu gak nyampe seratusan orderan, misalnya seminggu pun kadang nggak ada orderan, kalau sekarang diperkirakana dalam seminggu ada 7 orderan," ujar alumni Universitas Sumatera Utara (USU) itu.
"Perkembangan usahaku bukan lumayan lagi tetapi berubah, pendapatan kotor berkisar Rp 5 - 10 juta perbulan," imbuhnya.
Sementara itu, pelaku UMKM lainnya bernama Riska Aran Sasmita yang berasal dari Deli Tua, Kabupaten Deli Serdang. Ia merupakan pelaku usaha yang menggeluti kerajinan tangan terbuat dari bahan kawat bulu, produk - produk Riska telah dipasarkan di aplikasi Shopee.
Riska mengatakan, awalnya ia diminta membuat paket hantaran dan berinisiatif belajar otodidak di sosial media. Ternyata karyanya banyak peminat, sehingga ia membuka usaha tersebut dan mempromosikannya di sosial media kemudian merambat ke aplikasi Shopee.
"Awal mulanya itu, gara-gara dulu ada sepupu minta tolong buatkan paket hantaran. Paket hantaran itu ada bunga-bunganya, saat itu untuk bunganya kebetulan nyari referensi. Kemudian, lewat tentang kawat bulu jadi kepikiran kenapa nggak buat bunganya dari kawat bulu," ungkap Riska kepada NadiKabar, Minggu (30/8/2026).
Riska menambahkan, modal awalnya ia memulai usaha tersebut sebesar Rp 300 ribu, sudah termasuk bahan dan peralatannya. Hasil karya tersebut, bando karnaval merah putih, gantungan kunci, vas bunga, topper pulpen dan kreasi kerajinan tangan lainnya.
"Modal awal itu Rp 300 ribu, termasuk bahan kawat bulu dan peralatanya. Kebetulan waktu itu, masuk aplikasi Shopee ketika momen jelang 17 Agustus. Kepikiranlah buat kreasi bando rupanya peminatnya banyak," ungkapnya.
Ia juga menambahkan, perubahan ketika ia bergabung menjual barang tersebut ke Shopee, saat itu merasa jauh lebih banyak pembeli. Sedangkan penjualan offline juga tetap ada tetapi tidak sebanyak pembelian di aplikasi.
"Waktu itu lumayan penjualan di Shopee dan ada juga beli secara offline. Dulu belum terlalu banyak yang buat kerajinan tersebut, saat itu sekitar 200 - 300 pics laku terjual di aplikasi Shopee," ungkapnya.
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Sumatera Utara (Sumut), Yuliani Siregar, mengatakan pemerintah sangat mendukung pelaku usaha melakukan pemasaran lewat digital.
"Pemerintah sangat mendukung 100 persen pemasaran UMKM lewat digital. Semua kita permudah dan pembiayaan juga dibantu fasilitasi ke perbankan yang ada KUR," ucap Yuliani kepada NadiKabar, Minggu (30/8/2026).
Yuliani juga menambahkan, tahun ini di Sumut ada 1.000 sertifikat halal diberikan secara gratis ke pelaku UMKM. Ia mengatakan, nantinya, di tahun depan rencananya akan ditambah.
"Tahun ini ada 1.000 sertifikat halal secara gratis kita luncurkan. Lalu, tahun depan arahan pak Gubernur Sumut berkisar 5000 sertifikat yang kita berikan. Tahun ini juga 400 lebih UMKM kita fasilitasi masuk pasar global," imbuhnya.
Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, memandang banyak pelaku UMKM belakangan ini menggunakan jejaring sosial miliknya sebagai wahana pemasaran, dan tidak sedikit juga turut bermitra dengan marketplace besar yang memang memiliki penetrasi pasar luas.
"Tren ini akan terus berkembang selama marketplace turut mensupport tumbuh kembang usaha milik pelaku UMKM," ucap Gunawan kepada NadiKabar, Minggu (30/8/2026).
Gunawan juga memandang, marketplace besar punya keunggulan untuk membantu memperluas jaringan pemasaran, dan tentunya lebih efektif dibandingkan dengan pemasaran secara konvensional (offline). "Bagi pelaku UMKM yang mengharapkan tumbuh kembang usahanya, maka salah satu jalan yang bisa ditempuh adalah dengan bermitra dengan perusahaan marketplace yang memang sudah mapan dan digunakan luas konsumen," imbuhnya.
Meskipun seperti itu, Gunawan menilai bisnis tidak sepenuhnya bergantung dengan satu solusi agar produk tetap diminati. Ia sebut, inovasi dan kreatifitas dibutuhkan agar pelaku UMKM mengikuti permintaan pasar seiring perkembangan zaman.