NADIKABAR.COM β€” Jauh sebelum industri rokok Indonesia diisi nama-nama besar seperti sekarang, seorang pengusaha asal Kudus sudah membangun kerajaan bisnis kretek dengan skala luar biasa di zaman Hindia Belanda. Namanya Nitisemito.

Lewat merek Tjap Bal Tiga, Nitisemito mengubah usaha rokok skala kecil menjadi industri besar. Pada 1934, Bal Tiga disebut memiliki 10 ribu pekerja dan mampu memproduksi hingga 8 juta batang rokok per hari. Dari situ, Nitisemito dikenal sebagai Raja Kretek.

Dalam publikasinya, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Nitisemito lahir dan besar di Kudus pada 1863 dengan nama Roesdi, anak Haji Soelaiman, seorang lurah di Desa Janggalan, Kudus.

Alih-alih mengikuti jejak ayahnya di ranah pemerintahan, Roesdi memilih berdagang. Ia sempat menjalankan beberapa usaha sebelum akhirnya masuk ke bisnis tembakau dan rokok.

Berdasarkan catatan jurnal Jantra terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, usaha Nitisemito awalnya masih berskala kecil. Ia kemudian mengembangkan usaha rokok kretek yang sebelumnya banyak diproduksi secara rumahan jadi industri yang lebih besar.