Ressa mengatakan, kondisi tersebut tidak diketahui saat masih dalam kandungan. Berdasarkan pemeriksaan USG, MZA diketahui merupakan bayi kembar. Namun, saudara kembarnya meninggal dunia di dalam kandungan.
"Dari USG mah belum ketahuan. Dari USG mah kembar, cuma yang satunya meninggal pas di dalam kandungan karena prematur. Yang satunya alhamdulillah, tapi ya gitu keadaannya, fisiknya," ungkap Ressa.
Kini, perkembangan MZA juga masih tertinggal dibandingkan anak seusianya. Bocah tersebut belum bisa duduk sendiri dan belum dapat berjalan. Ia hanya sudah mulai bisa merayap, meski belum mampu melakukannya dalam waktu lama.
"Sekarang si Dede belum bisa duduk, ngerayap bisa cuma nggak bisa lama, belum bisa jalan juga," katanya.
Ressa dan keluarga tak tinggal diam. Pemeriksaan untuk mengetahui kondisi mata MZA telah dilakukan di Rumah Sakit Mata Cicendo, Bandung, sebanyak dua kali.
Menurut Ressa, dokter menyampaikan MZA masih ada harapan melihat jika mendapatkan donor mata. Namun, tindakan tersebut disebut baru memungkinkan ketika usianya sekitar 5 tahun karena kondisi tubuhnya dinilai belum cukup kuat saat ini.
"Kalau kata dokternya masih bisa didonor mata. Kata dokternya bisa dapat donor itu di usia 5 tahun. Khawatirnya sekarang belum kuat katanya," ucapnya.
Harapan terbesar Ressa kini adalah MZA bisa mendapatkan donor sehingga suatu hari nanti dapat melihat.
"Ya kami keluarga penginnya ada yang donor mata. Biar anak saya bisa melihat lagi," ujarnya.