"Belum pernah mewakili Gresik, langsung mewakili Timnas. Rencana tanggal 5 September berangkat," jelas anak bungsu dari tiga bersaudara tersebut.

Di balik pencapaiannya, ada sosok ibu yang menjadi sumber semangat Ridwan. Ayahnya, Abdur Rahman, telah meninggal dunia. Kakak pertamanya juga telah tiada, sementara kakak keduanya merantau.

Kini, Ridwan tinggal bersama sang ibu di Bawean. Ia ingin kesempatan membela Indonesia dipersembahkan untuk keluarganya.

"Saya persembahkan untuk ibu dan kakak saya. Kakak saya yang pertama juga sudah tiada. Kakak kedua merantau, hanya tinggal saya dan ibu di Bawean," tuturnya.

Ridwan tumbuh dari keluarga buruh tani. Namun, kondisi keluarga dan keterbatasan fisik tak membuatnya minder. Ia justru menjadikannya alasan untuk terus membuktikan kemampuan.

Tidak adanya pelatih bukan alasan bagi Ridwan untuk berhenti berkembang. Ia memanfaatkan YouTube untuk mempelajari teknik dasar sekaligus meningkatkan kemampuan bermain takraw.

"Belum ada pelatih, sering lihat di YouTube. Kebetulan saya juga punya idola atlet takraw, yakni Mohamad Azlan bin Alias, atlet sepak takraw Malaysia yang meraih dua medali emas pada ajang Sukan SEA 2025," paparnya.

Dari sosok idolanya itu, Ridwan semakin termotivasi untuk mengejar mimpi menjadi pemain takraw di tingkat internasional. Ridwan bermain di posisi service dalam cabang olahraga takraw adaptive. Ia sadar perjalanan menuju level internasional tidak mudah. Gunjingan dari orang lain juga pernah diterimanya. Namun, ia memilih tidak menjadikan perkataan orang sebagai penghalang.

"Tapi itu semua tidak saya hiraukan. Yang penting terus fokus, maju dan berusaha untuk tujuan," tegasnya.

Bagi Ridwan, kesempatan membela Indonesia menjadi bukti bahwa keterbatasan tidak menentukan sejauh mana seseorang bisa melangkah.