Menyoroti jarak dari wilayah pengolah sampah ke pusat industri, Menteri Jumhur menyebut hambatan itu dapat diatasi melalui hitungan bisnis yang matang. Salah satu strateginya adalah menggabungkan pengolahan sampah dari beberapa kabupaten agar volume lebih besar dan biaya per unit lebih rendah, sehingga menarik bagi pelaku usaha.
"Misal mengerjakan pengolahan sampah yang menghasilkan 1.000 ton dengan menghasilkan 100 ton bisa jadi tenaga kerja manusianya sama jumlahnya tapi hasilnya lebih banyak yang 1.000 ton. Artinya per unit, biaya yang dikeluarkan atau cost-nya lebih rendah. Biasanya orang bisnis akan berpandangan seperti itu," jelas Menteri Jumhur.
KLH/BPLH berharap pengelolaan sampah yang terhubung dengan pasar membuat semua pihak diuntungkan, mulai dari pemerintah daerah, pengelola, hingga industri pembeli. Keberhasilan di Klungkung ditargetkan menjadi model percontohan nasional agar daerah lain dapat mengolah sampahnya menjadi energi dan menjaga kebersihan lingkungan.