Terkait besaran anggaran bagi inovasi terpilih, koalisi masih mematangkan skema final bersama para peserta yang bersumber dari program Koalisi Bali Emisi Nol Bersih dan Viriya ENB.

Sekar menjelaskan pemilihan inovasi terbaik sendiri didasarkan pada pertimbangan visibilitas program yang realistis dikerjakan dalam durasi waktu terbatas selama delapan bulan pendampingan.

Selain visibilitas, koalisi juga menekankan pentingnya proses kreasi yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat serta kemudahan replikasi model di wilayah lain.

Rangkaian pitch day Pekan Iklim Bali 2026 tersebut menghadirkan lima finalis inovasi iklim yang bersaing memperebutkan tiga posisi pemenang terbaik.

Finalis pertama mempresentasikan solusi pengolahan kakao berkelanjutan dengan teknologi pengering berbasis Solar Thermal dan sensor IoT untuk memangkas waktu pengeringan biji kakao.