NADIKABAR.COM — Siapa yang masuk ke sebuah rumah yang terkunci? Pertanyaan sederhana ini pernah menjadi teka-teki dalam sebuah keluarga besar. Tidak ada yang melihat langsung siapa yang masuk. Petunjuknya adalah daftar anggota keluarga yang sudah hadir dan yang belum. Dengan membandingkan keduanya, kemungkinan jawaban dapat dieliminasi hingga ditemukan orang yang dicari.
Seorang anak berusia enam tahun yang masih duduk di taman kanak-kanak (TK) mampu menjawab teka-teki itu dengan benar. Ia, bahkan dapat menjelaskan alasannya: menghitung siapa yang sudah hadir dan siapa yang belum. Anak itu belum belajar bahasa pemrograman, tetapi telah menunjukkan kemampuan mengumpulkan informasi, membandingkan fakta, mengeliminasi kemungkinan, dan menarik kesimpulan secara sistematis.
Pengalaman tersebut menggambarkan titik temu dua kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen): pembelajaran mendalam (PM) serta koding dan kecerdasan artifisial (KKA). Keduanya berbeda fungsi, tetapi dapat saling menguatkan dalam mengembangkan kemampuan berpikir, memecahkan masalah, dan memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab.