Menurut dia, keberanian para pemuda pada tahun 1928 dan semangat persatuan yang menjadi fondasi berdirinya bangsa Indonesia.
Ia menjelaskan, rute napak tilas tahun ini menempuh jarak kurang lebih 3 kilometer, dimulai dari Museum Sumpah Pemuda, melintasi kawasan Gereja Katedral Jakarta, hingga berakhir di Lapangan Banteng.
Dia memaparkan makna historis dari setiap titik rute yang dilalui para peserta, mulai dari Museum Sumpah Pemuda mengingatkan kembali momen bersejarah ketika para pemuda dari berbagai organisasi kedaerahan (Jong Jawa, Sumatera, Ambon dan lainnya) dengan latar belakang suku dan agama yang berbeda menyatukan tekad mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahas, Indonesia.
Gereja Katedral Jakarta mengandung makna nilai sejarah karena di lingkungannya terdapat Gedung Katholieke Jingelingen Bond yang menjadi salah satu tempat penyelenggaraan Kongres Pemuda II pada 27 Oktober 1928, sebelum puncaknya melahirkan ikrar Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928.