Kemudian, Lapangan Banteng menjadi titik akhir refleksi perjuangan tokoh-tokoh penting pemuda masa lampau seperti Muhammad Yamin, Sugondp Djojopoespito, dan Mohammad Tabrani.

Charles menekankan pentingnya menjaga agar sejarah perjuangan bangsa tidak berhenti sekedar sebagai catatan buku atau seremoni tahunan, melainkan bertransformasi menjadi sumber inspirasi bagi anak muda untuk berbuat nyata bagi Indonesia.

Ia menambahkan, kegiatan ini juga menjadi bagian dari napak tilas perjalanan bangsa menyongsong satu abad Sumpah Pemuda pada tahun 2028.

"Mari kita gunakan momentum ini untuk memperkuat persatuan, menumbuhkan rasa cinta tanah air, dan membangun generasi muda yang tidak hanya bangga terhadap sejarah bangsanya, tapi juga bersedia melanjutkan perjuangan untuk masa depan Indonesia," pungkasnya.