Data tersebut juga menunjukkan investasi hilirisasi terus mengambil porsi signifikan. Pada Semester I 2026, realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp300,1 triliun atau 29,7 persen dari total investasi nasional.
Zainul menilai tantangan tersebut perlu dilihat bersama dengan faktor lain yang mempengaruhi penyerapan tenaga kerja. Zainul mengatakan setiap satu tenaga kerja yang tercipta saat ini membutuhkan investasi sekitar Rp689 juta.
Kondisi tersebut menunjukkan investasi Indonesia yang berada pada kecenderungan padat modal tidak secara otomatis menghasilkan penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar. Faktor lain yang juga menghambat konversi investasi menjadi penyerapan kerja antara lain komposisi investasi, otomatisasi, rantai pasok, serta ketidaksesuaian atau mismatch tenaga kerja.
Karena itu, menurut dia, pengembangan industri turunan menjadi penting agar investasi yang masuk tidak berhenti pada kegiatan produksi yang membutuhkan modal besar, tetapi dapat membentuk rantai industri yang lebih luas sehingga membuka peluang pekerjaan baru.