Di Karawang misalnya, meski banyak kawasan industri, terdapat lebih dari 7 persen atau sekitar 169 ribu jiwa masyarakatnya berada dalam kategori miskin ekstrem.
"Ini sebuah ironi, di tengah perputaran uang triliunan rupiah, tapi warga yang sangat miskin juga banyak," katanya.
Menurut dia, kondisi tersebut harus menjadi perhatian, kemungkinan terjadi karena skema penyaluran CSR yang kurang tepat. Selama ini CSR kemungkinan hanya berorientasi pada bantuan jangka pendek yang tidak menyasar akar masalah.
"CSR itu tidak boleh sekadar bagi-bagi minyak goreng saat Lebaran atau memberikan seekor sapi saat Idul Adha. Penyelesaiannya harus tersistem. Kami mendorong agar sebuah kawasan industri dan tenant di dalamnya wajib membina serta menyekolahkan anak-anak usia sekolah di sekitar lokasi agar tidak ada lagi cerita anak putus sekolah," katanya.