NADIKABAR.COM — Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (KONASPI) XII Tahun 2026 di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, mendorong penguatan karakter bangsa, peningkatan mutu guru, dan pengembangan inovasi pendidikan sebagai bagian dari upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Rektor Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja Prof. I Wayan Lasmawan saat pembukaan acara KONASPI, Jumat, mengatakan tiga isu tersebut menjadi pembahasan strategis dalam KONASPI XII yang mempertemukan para pakar, akademisi, praktisi, dan pemangku kebijakan bidang pendidikan.

"Ada tiga isu strategis yang memang menjadi rujukan untuk kita bahas. Yang pertama adalah tentang penguatan karakter bangsa," kata Lasmawan di Nusa Dua, Badung, Bali.

Menurut dia, konferensi tersebut diharapkan melahirkan pemikiran dan praktik baik (best practice) mengenai penguatan karakter manusia Indonesia sebagai salah satu fondasi pembangunan sumber daya manusia.

Isu kedua yang menjadi perhatian adalah peningkatan kualitas, kompetensi, dan profesionalisme guru.

Lasmawan mengatakan guru merupakan ujung tombak dalam mencapai tujuan pendidikan nasional sehingga peningkatan mutunya perlu menjadi perhatian bersama.

"Kita berharap melalui konferensi ini akan terlahir beberapa ide, gagasan, serta inovasi bagaimana mutu guru itu bisa kita kuatkan, kita tingkatkan, dan kita jaga. Agar betul-betul guru menjadi ujung tombak tercapainya tujuan pendidikan nasional," ujarnya.

Sementara itu, isu ketiga berkaitan dengan peran KONASPI sebagai media strategis untuk menghimpun berbagai gagasan inovatif dari para pakar dan pengambil kebijakan pendidikan.

Lasmawan berharap hasil pembahasan dalam KONASPI XII dapat melahirkan Deklarasi Bali yang berisi sejumlah rekomendasi untuk disampaikan kepada pemerintah melalui kementerian terkait dan DPR RI.

"Kita berharap dari Nusa Dua ini lahir beberapa ide gagasan serta pemikiran-pemikiran inovatif terkait dengan bagaimana pendidikan itu terkelola untuk memperkuat dan mempercepat terwujudnya Indonesia Emas 2045," katanya.

Ia menilai tantangan utama pendidikan saat ini adalah mengembalikan pendidikan pada marwahnya sebagai pintu utama pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas dan kompeten.

Menurut Lasmawan, upaya tersebut harus dimulai dari peningkatan mutu guru hingga perbaikan kualitas pembelajaran di ruang kelas.

"Perbaikan mutu guru, kemudian perbaikan ruang-ruang kelas dari sisi dimensi kualitas pembelajaran adalah sebuah keharusan," ujarnya.

Ia mengatakan hasil pendidikan yang baik bermula dari proses pembelajaran di ruang kelas yang mampu membangun dialog akademik sekaligus memberikan ruang kepada peserta didik untuk menemukan dan mengembangkan potensinya secara optimal.

Dalam pidatonya, Lasmawan juga menekankan pentingnya penguatan peran Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dalam mencetak generasi unggul, khususnya dalam menjawab persoalan kualitas dan profesionalisme guru.

Ia berharap LPTK tidak hanya menyampaikan persoalan kekurangan tenaga atau sumber daya, tetapi mampu hadir memberikan solusi terhadap berbagai persoalan pendidikan.