Pengakuan tersebut kemudian mendapat sorotan dari Senator Kirsten Gillibrand, anggota Partai Demokrat yang duduk di Komite Angkatan Bersenjata Senat AS.

Gillibrand menuding pemerintahan Presiden Donald Trump sebelumnya menutupi informasi mengenai kondisi personel USS Abraham Lincoln.

"Apa yang oleh Trump dan Menteri Hegseth dianggap sebagai 'berita palsu' ternyata merupakan kondisi serius yang kian memburuk bagi para anggota militer kita," kata Gillibrand dalam pernyataan kepada NadiKabar, Rabu (23/9).

Gillibrand juga mengkritik kebijakan pemerintah terkait alokasi anggaran dan perhatian terhadap anggota militer.

"Pasukan kita dan keluarga mereka melakukan pengorbanan luar biasa setiap harinya, namun presiden justru menanggapi mereka dengan sikap yang sangat tidak menghargai," ujarnya.

Dia kemudian menyoroti kemampuan pemerintah dalam menyediakan anggaran untuk berbagai kebutuhan lain, tetapi dinilai belum memberikan perhatian yang memadai terhadap personel militer.

Informasi mengenai dugaan meningkatnya niat bunuh diri di USS Abraham Lincoln sebenarnya sudah muncul sebelumnya. Namun, kabar tersebut sempat dibantah oleh pihak militer AS.

Komando militer Amerika Serikat yang bertanggung jawab atas kawasan Timur Tengah, US Central Command (CENTCOM), membantah laporan mengenai percobaan bunuh diri personel USS Abraham Lincoln.

Bantahan tersebut disampaikan melalui unggahan di media sosial X pada Agustus 2026, seperti dilaporkan CGTN.

"Selama 48 jam terakhir, berbagai media telah melaporkan beberapa klaim palsu terkait penempatan USS Abraham Lincoln (CVN 72) ke Timur Tengah," tulis CENTCOM.

CENTCOM saat itu juga membantah laporan lain yang menyebut tujuh pelaut tewas dalam perkelahian di atas kapal induk.