NADIKABAR.COM — I Gede Selamet (21), sopir truk yang dibakar hidup-hidup oleh bosnya, I Putu Cahyadi Putra (37), dinyatakan meninggal dunia setelah mengalami luka bakar sekitar 68 persen dan trauma inhalasi. Kondisi itu menyebabkan kerusakan cukup luas pada jaringan paru-parunya.

Kepala ICU RSUP Prof IGNG Ngoerah, dr. Putu Kurniyanta, mengatakan kondisi GS sejak awal dirujuk ke RSUP Prof Ngoerah sudah tergolong kritis. Selain luka bakar yang luas, Selamet juga mengalami trauma inhalasi akibat menghirup uap panas saat kejadian.

"Paru-paru yang luka disertai dengan biasanya kalau pasien sudah lebih dari 50 persen (luka bakar) kemungkinan agak susah kami bisa, meskipun kami sudah melakukan upaya maksimal," ujar Putu saat ditemui di RSUP Ngoerah, Denpasar, dilansir NadiKabar, Jumat (25/9/2026).

Putu menjelaskan trauma inhalasi merupakan kondisi ketika uap panas masuk ke saluran pernapasan. Hal itu membuat jalan napas berisiko membengkak dan menyempit. Uap panas yang terhirup juga dapat melukai saluran napas hingga paru-paru.

"Uap panas yang masuk ke dalam saluran napas dan paru-parunya ini cukup melukai organ-organ di dalamnya, sehingga banyak terjadi kerusakan di jalan napas dan di paru-parunya. Nah, itu yang menyebabkan kondisinya tidak begitu stabil," jelasnya.

Untuk membantu kondisi tersebut, tim medis juga memaksimalkan dengan penggunaan mesin alat bantu napas atau ventilator.

Selain kerusakan pada saluran pernapasan dan paru-paru, Selamet mengalami luka bakar sekitar 68 persen dari total luas tubuhnya. Luka bakar tersebut meliputi wajah, leher, dada, punggung, kedua tangan hingga kedua kaki.