Penyelenggaraan kongres IPPA di Indonesia dinilai menjadi momentum untuk memperkuat diplomasi kebudayaan. Dalam audiensi bersama Presiden IPPA Anggraeni di Jakarta pada 4 Maret 2026, Fadli menyebut peran Indonesia bukan sekadar sebagai tuan rumah.
Kongres ini juga dinilai menjadi kesempatan untuk memperkenalkan posisi Indonesia dalam peta prasejarah dunia dan potensi wisata warisan budaya.
Sementara itu, Presiden IPPA Anggraeni mengatakan kongres tersebut menjadi ruang bertukar hasil penelitian sekaligus memperluas kolaborasi.
"Kongres ini tidak hanya menjadi ruang untuk bertukar hasil penelitian, tetapi juga membuka kesempatan bagi para praktisi, profesional, dan peneliti untuk membangun interaksi, memperluas kolaborasi lintas disiplin, serta memperkuat kerja sama antar institusi dan antarnegara," jelasnya.
Melalui Congress of the Indo-Pacific Prehistory Association (IPPA) ke-23, Kementerian Kebudayaan berharap kekayaan prasejarah Indonesia semakin dikenal dan mendapat perhatian lebih luas di tingkat internasional.
Forum ini juga diharapkan dapat menjadi ruang strategis untuk memperkuat kolaborasi penelitian lintas negara dan disiplin ilmu, sekaligus menegaskan kontribusi Indonesia dalam memperkaya pemahaman dunia tentang evolusi manusia, perkembangan kebudayaan, dan perjalanan panjang peradaban di kawasan Indo-Pasifik.