NADIKABAR.COM — Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengungkap tiga pesan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98. Ia mengatakan Megawati meminta agar pemikiran Bung Karno terkait Marhaenisme terus dipelajari.

"Yang pertama adalah salam hangat buat seluruh keluarga Gerakan Pemuda Marhaenis. Kemudian yang kedua Ibu Mega mengingatkan untuk terus pelajari pemikiran-pemikiran Bung Karno tentang Marhaenisme," kata Hasto dalam acara Kongres ke-10 Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda yang berlangsung pada Rabu (28/10/2026).

Acara ini bertema 'Marhaenist Future: Dedication of Life, Tetap Setia di Jalan Ideologi' yang menghadirkan peserta dari dewan pimpinan daerah dan cabang GPM dari sejumlah provinsi. Hasto juga menyampaikan kepengurusan GPM nantinya berziarah.

"Kemudian yang ketiga pesan bagi kepengurusan yang nanti terbentuk dari hasil kongres ini untuk jangan lupa berziarah ke tempat Bapak Marhaen," lanjutnya.

Ketua Umum DPP GPM Izedrik Emir Moeis mengatakan kongres ini menjadi titik konsolidasi organisasi. Dirinya menyebut GPM kini memiliki 22 dewan pimpinan daerah dan 78 dewan pimpinan cabang.

Dirinya juga menyoroti upaya GPM memperkenalkan marhaenisme kepada anak muda. Sebab istilah marhaenisme sempat tidak dikenal di ruang pendidikan.

"Coba kita datang ke SMA-SMA, kita ajak ngobrol, tidak ada yang tahu marhaenisme," kata Izedrik.

Sementara itu, Direktur Organisasi Kemasyarakatan Kemendagri Wahyu Chandra Kusuma yang hadir dalam acara ini menyinggung soal penyebutan rakyat kecil dalam diskursus marhaenisme. Ia juga memiliki pengalaman keluarganya yang tinggal di desa.

Saat pembukaan kongres terlihat hadir antara lain Ketua DPP PDI Perjuangan Ribka Tjiptaning dan senior partai Yakobus Mayong Padang.

"Bung Karno mengajarkan kegagahan, Bung Karno mengajarkan keberanian. Sehingga dalam forum ini kami memohon, jangan disebut lagi wong cilik. Yang dikatakan wong cilik itulah pemilik negeri ini yang sesungguhnya," kata Candra.