Ia menjelaskan nama Bagelen baru muncul dalam Babad Tanah Jawi yang ditulis pada abad ke-18 dengan sebutan Pagelen. Dalam naskah tersebut diceritakan bahwa Pagelen merupakan wilayah keturunan Prabu Swelacala melalui tokoh bernama Panuhun yang kemudian menjadi leluhur masyarakat Bagelen.

"Sampai saat ini saya belum menemukan sumber yang lebih tua daripada Babad Tanah Jawi mengenai Bagelen," ujar dia.

Karena itu, Sudibyo menilai anggapan bahwa Bagelen merupakan desa tertua di Indonesia belum dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.

"Berdasarkan data sejarah yang ada, pernyataan bahwa Bagelen adalah desa tertua di Indonesia sama sekali tidak terdukung. Kalau yang dibahas Desa Watukura atau Desa Boro, itu masih bisa didiskusikan," imbuhnya.

Sudibyo menambahkan, hingga kini belum ditemukan naskah kuno berbahasa Jawa Kuno yang secara khusus membahas Bagelen. Sebagian besar naskah yang tersedia berasal dari abad ke-18 hingga abad ke-20.

Sementara, arsip tertua mengenai Bagelen berasal dari masa VOC dan Pemerintahan Hindia Belanda, salah satunya Arsip Bagelen Nomor 18 yang kini menjadi koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Dalam kajiannya, Sudibyo juga menyoroti sosok Nyai Ageng Bagelen yang selama ini dikenal luas dalam cerita masyarakat. Menurutnya, hingga sekarang belum terdapat bukti sejarah yang memastikan tokoh tersebut benar-benar pernah hidup.

"Sampai saat ini saya tidak memiliki bukti bahwa Nyai Ageng Bagelen merupakan sosok historis. Beliau lebih merupakan tokoh yang berasal dari legenda," ucapnya.

Meski demikian, ia menilai kisah Nyai Ageng Bagelen tetap memiliki nilai penting sebagai tradisi lisan karena menggambarkan cara pandang masyarakat Bagelen terhadap perempuan.