"Legenda itu memperlihatkan sosok perempuan yang mandiri, emansipatif, dan asertif, bahkan sejalan dengan gagasan tentang perempuan pada era modern," imbuhnya.
Secara historis, Sudibyo menerangkan bahwa Bagelen memiliki posisi strategis sejak masa Mataram Islam hingga pemerintahan kolonial sebagai wilayah penyangga pusat kekuasaan.
Pada masa Panembahan Senopati dan Sultan Agung, prajurit Bagelen dikenal sebagai pasukan yang loyal kepada raja. Bahkan ketika Keraton Mataram dikuasai Trunajaya, Pangeran Puger membangun istana pengungsian di Purwaganda yang kini berada di wilayah Kecamatan Purwodadi.
Selain itu, saat Perang Jawa berlangsung pada 1829 hingga awal 1830, prajurit dari Bagelen terlibat secara besar-besaran dalam pertempuran, baik di pihak Pangeran Diponegoro maupun pasukan Belanda. Meski demikian, Sudibyo mengingatkan agar masyarakat dapat membedakan tim redaksi sejarah dan legenda.
"Terdapat jurang yang cukup lebar tim redaksi fakta sejarah dan cerita tentang Bagelen. Sebagian besar narasi seperti asal-usul Bagelen, Nyai Ageng Bagelen, maupun Sunan Geseng masih berupa sejarah lisan yang diwariskan turun-temurun dan belum sepenuhnya terkonfirmasi oleh data sejarah," ucapnya.
Ia menilai penelitian lebih mendalam masih diperlukan agar sejarah Bagelen dapat disusun berdasarkan bukti yang sahih. Di sisi lain, legenda Nyai Ageng Bagelen tetap bertahan karena diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.
Menurut Sudibyo, kisah tersebut memuat nilai-nilai universal seperti keteguhan, kesetiaan, ketangguhan, dan kemandirian perempuan yang masih relevan hingga kini.
"Hanya saja, diperlukan interpretasi baru agar nilai-nilai dalam legenda tersebut tetap relevan bagi generasi masa kini," pungkasnya.
Artikel ini telah naik di NadiKabar.