NADIKABAR.COM — Pemerintah Korea Selatan telah mulai meninjau program-program dukungan bagi keluarga dengan latar belakang multikultural, menurut sumber hukum pada Jumat.
Hal tersebut dilakukan menyusul pernyataan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung yang mempertanyakan apakah program-program tersebut justru menempatkan pihak lain dalam posisi yang kurang menguntungkan.
Pada akhir bulan lalu, Kementerian Kehakiman meminta pemerintah daerah untuk memeriksa status program-program mereka, di tengah perdebatan baru mengenai apakah program tersebut memberikan perlakuan istimewa kepada keluarga multikultural dan mendiskriminasi keluarga Korea.
Berdasarkan temuan tersebut, kementerian akan memeriksa kemungkinan adanya diskriminasi, menurut sumber-sumber terkait.
Dalam sebuah unggahan di media sosial pekan lalu, Lee menyatakan akan meninjau kembali apakah program dukungan khusus bagi keluarga multikultural masih diperlukan.
Pernyataan itu menuai kritik dari berbagai pihak yang menganggapnya sebagai upaya untuk memicu perpecahan.
Meskipun demikian, Lee tetap pada pendiriannya dengan menegaskan bahwa kebijakan apa pun yang memberikan keistimewaan hingga berujung pada diskriminasi terbalik (reverse discrimination) tidak dapat dibenarkan.
Pemerintah Kota Seoul telah memulai pemeriksaan terhadap 26 program dukungan bagi keluarga multikultural di ibu kota tersebut, termasuk kebijakan yang memberikan prioritas bagi anak-anak dari keluarga multikultural untuk mendapatkan tempat di pusat penitipan anak, terlepas dari tingkat pendapatan keluarga mereka.
Pemerintah kota juga mengelola pusat perawatan pascapersalinan yang memberikan akses prioritas bagi ibu dari keluarga multikultural serta individu yang dianggap berjasa bagi negara.
Sebelum komentar presiden tersebut muncul, Wali Kota Seoul Oh Se-hoon dilaporkan telah menginstruksikan jajaran pejabat kota untuk mencari cara guna memperbaiki program-program tersebut.
Dalam konferensi pers yang digelar pada Kamis, Oh mengakui perlunya dukungan kebijakan dan perhatian bagi keluarga multikultural, namun dia mencatat bahwa program-program yang banyak diminati harus dirancang dengan lebih cermat.
Keluarga multikultural merupakan kelompok minoritas dari total populasi Korea Selatan yang berjumlah sekitar 51 juta jiwa.
Menurut data kementerian, hingga tahun lalu, terdapat sekitar 1,25 juta orang yang tergabung dalam 451.492 rumah tangga multikultural.
Penerjemah: Cindy Frishanti Octavia