NADIKABAR.COM — Kebiasaan membunyikan leher atau melakukan kretek leher sering dilakukan ketika tubuh terasa pegal dan kaku, terutama setelah terlalu lama duduk bekerja atau menatap layar ponsel. Sensasi bunyi saat leher diputar terkadang memberikan rasa lega dan membuat otot terasa lebih rileks.

Namun, kebiasaan ini juga kerap dikaitkan dengan risiko cedera pembuluh darah hingga stroke. Bahkan, beberapa kasus stroke pada orang berusia muda dilaporkan berkaitan dengan manipulasi leher yang dilakukan secara tiba-tiba.

Lantas, benarkah kretek leher bisa memicu stroke? Apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh ketika leher dibunyikan?

Kretek leher merupakan aktivitas menggerakkan atau memutar leher hingga menghasilkan bunyi tertentu. Bunyi tersebut umumnya berasal dari perubahan tekanan dan terbentuknya gelembung gas di dalam cairan sendi, bukan karena tulang leher yang bergesekan atau patah.

Meski demikian, gerakan leher yang terlalu kuat, mendadak, atau dilakukan dengan tekanan berlebihan berpotensi menimbulkan cedera pada jaringan di sekitarnya.

Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah cervical artery dissection, yaitu robekan pada lapisan dalam pembuluh darah arteri di leher yang bertugas mengalirkan darah menuju otak.

Menurut American Heart Association (AHA), kondisi tersebut dapat terjadi pada arteri karotis maupun arteri vertebralis. Robekan dapat menyebabkan darah masuk ke lapisan dinding pembuluh, membentuk gumpalan, atau menghambat aliran darah.

Jika gumpalan darah bergerak menuju otak dan menyumbat pembuluh darah, kondisi tersebut dapat memicu stroke iskemik.

Apakah semua aktivitas kretek leher berbahaya?

Tidak semua bunyi atau gerakan pada leher otomatis menyebabkan stroke. Risiko tersebut tergolong jarang, tetapi tetap perlu diperhatikan.

National Center for Complementary and Integrative Health (NCCIH) menjelaskan bahwa manipulasi tulang belakang, khususnya pada bagian leher, telah dikaitkan dengan kasus robekan arteri leher yang dapat berujung pada stroke.

Namun, hubungan sebab-akibat antara manipulasi leher dan stroke belum sepenuhnya dipastikan. Sebagian penelitian menemukan adanya hubungan, sementara penelitian lain menunjukkan hasil yang belum konklusif.

American Heart Association juga menjelaskan bahwa robekan pembuluh darah di leher dapat terjadi tanpa benturan besar. Gerakan leher yang tiba-tiba atau tekanan mekanis tertentu diduga dapat berperan pada sebagian kasus.

Artinya, bukan berarti setiap orang yang membunyikan leher akan mengalami stroke. Namun, kebiasaan memutar atau menarik leher secara paksa sebaiknya dihindari karena berpotensi menimbulkan cedera.

Gejala cedera pembuluh darah leher yang perlu diwaspadai

Robekan pada pembuluh darah leher terkadang tidak langsung menunjukkan gejala yang jelas. Beberapa keluhan bahkan dapat menyerupai sakit kepala atau nyeri otot biasa.

Meski begitu, terdapat sejumlah tanda yang perlu diperhatikan, antara lain:

Nyeri leher atau kepala mendadak: Terutama jika terasa berbeda dari sakit kepala yang biasa dialami.

Pusing atau vertigo: Muncul sensasi berputar atau kehilangan keseimbangan.

Gangguan penglihatan: Pandangan mendadak kabur atau melihat ganda.

Gangguan koordinasi: Kesulitan berjalan, kehilangan keseimbangan, atau mengalami gangguan gerakan tubuh.

Gangguan bicara: Kesulitan berbicara atau memahami pembicaraan orang lain.

Kelemahan anggota tubuh: Salah satu sisi wajah, lengan, atau kaki mendadak terasa lemah atau mati rasa.

Jika mengalami gejala seperti gangguan bicara, kelemahan satu sisi tubuh, atau gangguan penglihatan mendadak, segera cari pertolongan medis darurat. Jangan menunggu gejala menghilang dengan sendirinya.