"Berarti si desainer-nya dia tidak memahami dengan situasi jalan di situ. Koridor jalan di koridor busway di tengah itu hanya bisa terjadi kalau dia ada di dua koridor jalan yang berlawanan misalkan, kapasitas jalannya juga besar. Kalau ini akhirnya menurut saya jadi menunjukkan bahwa perencanaannya tidak matang," tambahnya.
Kemudian, Frans menilai perencanaan desain halte BRT itu terkesan terburu-buru. Pelaksananya kata dia, hanya mengejar target proyek pembangunan tanpa membuat perencanaan yang matang.
"Seharusnya kalau menurut saya pilihannya dua. Pilihannya kalau ini mau tetap di Ahmad Yani atau enggak, kalau untuk gini, halte di tengah, itu harus jalan yang dimensinya lebih lebar kayak Jalan Soekarno Hatta dan dia bersanding dengan JPO," katanya.
"Setiap tempat dia memiliki kekhasannya sendiri. Kekhasan jalan, kekhasan infrastruktur, kekhasan mobilitas orang. Harus dipikirkan itunya yang paling penting karena nanti mempergunakannya kan warganya sendiri," pungkasnya.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan merespons polemik proyek halte on-corridor BRT Bandung Raya di Jalan Ahmad Yani atau Cicadas. Konstruksi halte itu menimbulkan persoalan karena dibangun di tengah jalan.
Ditemui wartawan, Farhan mengaku saat ini sedang mengantisipasi agar dampak kemacetan di sana tidak begitu signifikan. Sebab, berdasarkan informasi yang dia terima, proyek halte itu ditarget rampung dalam 2 pekan.
"Itu sudah diduga sebelumnya, jadi saya sedang komunikasi bagaimana cara meminimalkan kemacetan. Tapi, ini kan hanya sementara saja, pengerjaannya akan cepat. Menurut kabar itu paling lama selama 2 minggu, setelah itu lancar persis seperti yang di Jalan Jakarta, itu juga cepat dalam 2 minggu selesai," kata Farhan, Jumat (11/9/2026).