"Seiring berjalannya waktu, ketambahan lagi, sekarang di belakangnya sound horeg ada dancer. Lho iya, enggak usah senyum-senyum, beneran ini. Dan dancer-nya itu dibayar. Ini diskotek berjalan," sambungnya.

Keprihatinan Ustaz Rifky kian memuncak saat melihat norma masyarakat yang perlahan bergeser. Dulu, hiburan malam seperti diskotek diidentikkan dengan hal tabu dan terbatas bagi orang dewasa.

Namun kini, pertunjukan serupa disajikan secara terbuka di pemukiman warga tanpa penyaringan usia.

"Zaman panjenengan dan saya kecil, orang ke diskotek itu kan malu-malu. Itupun masuknya bayar, anak kecil enggak boleh masuk," tegas Rifky.

"Sekarang diskoteknya lewat di depan rumah kita, dan ibu ngajak anaknya nonton, ngandheng anak cilik. 'Itu lho nak lihat... lohh... tutup nak telingamu, matanya gak papa nak, kupingnya aja yang bahaya,'" tambah Ustaz Rifky menggambarkan keprihatinannya.