Langkah pencegahan ini juga mengantisipasi pergerakan kapal-kapal kecil serta rintangan navigasi lain yang kerap tidak terlihat secara visual saat kabut asap meliputi alur perairan.

Selain dampak karhutla, pengawasan navigasi ekstra turut difokuskan pada kawasan padat lalu lintas perairan di sekitar lokasi proyek perbaikan Jembatan Mahakam Ulu, Samarinda.

"Penggunaan fasilitas pemanduan resmi sangat penting untuk menjamin manuver kapal melintas dengan selamat di bawah bentang jembatan," tutur Yuliansyah.

Petugas stasiun layanan lalu lintas kapal (VTS) Samarinda bersiagakan penuh memantau pergerakan radar dan sinyal sistem identifikasi otomatis selama 24 jam nonstop di sepanjang lintasan Sungai Mahakam.

KSOP Samarinda menegaskan bahwa hingga pertengahan Oktober 2026 belum ada laporan insiden kapal akibat keterbatasan jarak pandang di sepanjang alur perairan setempat.