NADIKABAR.COM — Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 menjadi 5,4–5,5 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), lebih rendah dibandingkan dengan proyeksi per Agustus 2026 yang berada di kisaran 5,6–6,0 persen.

“Ekonomi Indonesia di tahun 2026 diprakirakan tumbuh di sekitar 5,4–5,5 persen year-on-year," kata Menteri Keuangan Suahasil Nazara dalam Konferensi Pers KSSK di Jakarta, Selasa.

Meski proyeksi pertumbuhan diturunkan, KSSK menilai perekonomian domestik masih menunjukkan ketahanan di tengah meningkatnya tekanan global.

Pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2026 diperkirakan tetap kuat, ditopang oleh permintaan domestik dan kinerja ekspor yang positif.

Dari sisi konsumsi rumah tangga, pertumbuhan didorong oleh berlanjutnya berbagai stimulus fiskal pemerintah.

Suahasil mengatakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga terus dijaga untuk berperan sebagai peredam guncangan (shock absorber) melalui subsidi, kompensasi, perlindungan sosial, stabilisasi harga pangan, serta program penciptaan lapangan kerja.

Sementara itu, investasi diperkirakan tetap tumbuh kuat seiring berjalannya proyek hilirisasi dan pembangunan infrastruktur dalam program prioritas pemerintah.

Konsumsi pemerintah turut didukung oleh percepatan belanja negara dan penyaluran bantuan sosial, kata Suahasil.

Di sisi eksternal, Menkeu mengatakan kinerja ekspor nonmigas masih positif dengan dukungan kenaikan harga dan permintaan komoditas ekspor.

KSSK juga mencatat sejumlah indikator yang mencerminkan ketahanan aktivitas ekonomi domestik. Penjualan mobil dan sepeda motor pada September 2026 masing-masing tumbuh sebesar 28,1 persen dan 15,4 persen secara tahunan (yoy).

Selain itu, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia melanjutkan ekspansi dari kisaran 52 pada September menjadi 54 pada Oktober 2026.

“Untuk mempertahankan momentum pertumbuhan, penguatan sinergi kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia (BI) serta kolaborasi pemerintah dan Danantara melalui pendekatan two arms of the state terus diperkuat untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan bernilai tambah tinggi,” ujar Suahasil.