Fokusnya adalah kerja sama akademik dan penelitian, mempromosikan program bersama, mobilitas, dan pertukaran pengetahuan interdisipliner di tim redaksi negara-negara BRICS. Selain pendidikan tinggi, deklarasi juga menyorot pertukaran praktik baik dalam pengasuhan dan pendidikan anak usia dini (PAUD).

"Kami mendorong pertukaran praktik terbaik, kerja sama dalam Pengasuhan dan Pendidikan Anak Dini Usia (Early Childhood Care and Education / ECCE) serta Literasi dan Numerasi Dasar (Foundational Literacy and Numeracy / FLN), pengakuan kesetaraan kualifikasi, mobilitas akademis dan profesional, literasi digital, penggunaan teknologi baru-termasuk Kecerdasan Buatan (Al) -dalam pendidikan secara aman, etis, dan berpusat pada manusia, serta kemitraan institusional yang lebih kuat," tulis keterangan dalam deklarasi.

Dalam kerja sama antarnegara BRICS, Indonesia melalui BRIN telah membuka pintu dan menawarkan pemanfaatan infrastruktur dan fasilitas riset unggulan Indonesia kepada para periset negara anggota.

"Indonesia membuka infrastruktur dan fasilitas riset unggulan BRIN untuk dimanfaatkan bersama oleh periset, perguruan tinggi, industri, serta periset dari negara-negara anggota BRICS. Kami ingin akses terhadap fasilitas riset ini semakin memperkuat mobilitas periset dan mendorong lahirnya kolaborasi riset yang konkret," kata Kepala BRIN Arif Satria saat menghadiri The 14th BRICS Science, Technology and Innovation (STI) Ministerial Meeting di Chennai, India, Jumat (21/8/2026), dikutip Sabtu (12/9/2026).