NADIKABAR.COM — Erupsi Gunung Anak Krakatau sejak 4 September 2026 menyebabkan abu vulkanik menyebar ke sejumlah wilayah. Berdasarkan pemantauan BMKG hingga Senin (7/9) pagi, abu vulkanik pada lapisan permukaan hingga ketinggian sekitar 15.000 kaki terpantau bergerak ke arah barat daya hingga barat laut.

Sebaran abu mencakup sebagian wilayah Banten, Jawa Barat bagian barat dan selatan, Lampung, serta Bengkulu. Merespons kondisi ini, BMKG pun terus memantau pergerakan abu vulkanik.

Dokter Spesialis Paru Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Sondang Ruth Angelia Sirait, M.Ked.(Paru), Sp.P menyampaikan kondisi ini perlu diwaspadai karena paparan abu dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan partikel halus yang terhirup.

"Secara umum, semakin kecil ukuran partikel, semakin jauh partikel dapat masuk ke saluran pernapasan, bahkan sebagian partikel yang sangat halus dapat mencapai saluran napas kecil yang disebut alveolus yang akan menyebabkan peradangan dan stres oksidatif. Karena itu, saat terjadi paparan abu vulkanik, prinsip utama yang perlu dilakukan adalah mengurangi paparan sebaik mungkin," jelas dr. Sondang dalam keterangannya, Jumat (11/9/2026).

Abu vulkanik terdiri dari campuran partikel dengan ukuran dan komposisi yang beragam. Sebagian partikel abu yang melayang di udara termasuk dalam kategori particulate matter (PM).

PM10 merupakan partikel berdiameter aerodinamik 10 mikrometer atau lebih kecil yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Sementara itu, PM2.5 memiliki diameter aerodinamik 2,5 mikrometer atau lebih kecil sehingga dapat menembus lebih dalam hingga ke saluran napas kecil di paru-paru.

dr. Sondang menyampaikan semakin kecil ukuran partikel, semakin besar kemungkinannya mencapai saluran pernapasan yang lebih dalam. Namun, dampak abu vulkanik terhadap kesehatan juga dipengaruhi oleh konsentrasi partikel di udara, lama paparan, komposisi mineral dan kimia abu, serta kondisi kesehatan seseorang.

Dalam jangka pendek, paparan abu vulkanik dapat menyebabkan iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, rasa tidak nyaman di dada, mengi, hingga sesak napas. Abu vulkanik juga dapat mengganggu kesehatan mata dan kulit.

Sementara pada penderita asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), atau penyakit paru kronik lainnya, paparan abu dapat memicu atau memperberat gejala. Anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit paru atau kardiovaskular juga perlu lebih berhati-hati karena lebih rentan terhadap dampak paparan partikel di udara.