NADIKABAR.COM — Kualitas udara Kota Jakarta tercatat tidak sehat pada Minggu pagi ini, sehingga masyarakat disarankan agar mengenakan masker saat beraktivitas di luar rumah, demikian menurut laman IQAir, dengan pembaruan pada pukul 06.00 WIB.

IQAir mencatat kualitas udara Jakarta berada pada poin 180, dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 96,5 mikrogram per meter kubik atau 19,3 kali lebih tinggi dari nilai panduan kualitas udara tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

PM 2,5 merupakan partikel berukuran lebih lebih kecil 2,5 mikron (mikrometer) yang ditemukan di udara termasuk debu, asap dan jelaga. Paparan partikel ini dalam jangka panjang dikaitkan dengan kematian dini, terutama pada orang yang memiliki penyakit jantung atau paru-paru kronis.

Rekomendasi kesehatan terkait kualitas udara saat ini, yakni selain mengenakan masker, juga menghindari beraktivitas di luar ruangan, menutup jendela untuk menghindari udara luar yang kotor, dan menyalakan penyaring udara.

Kualitas udara Jakarta pada Minggu pagi tercatat berada pada urutan ketiga terburuk se-Indonesia setelah Palembang dengan indeks kualitas udara 708 dan Pontianak dengan indeks kualitas udara 196.

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pada Jumat (16/10) menyatakan kondisi udara Jakarta sedang tidak baik-baik saja. Untuk itu, ia menginstruksikan Dinas Kesehatan DKI Jakarta agar menyiagakan 31 rumah sakit umum daerah, 44 puskesmas, dan 292 puskemas pembantu guna menagani penyakit yang muncul akibat cuaca.

Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Sabtu (17/10) menyebutkan sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sudah mulai menjauhi wilayah Jawa bagian barat, termasuk Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Sebaran asap sempat masuk wilayah Jawa bagian barat pada Jumat (16/10), namun tidak berlangsung lama dan tidak berdampak pada kualitas udara di permukaan.