Gigi menjadi bagian penting dalam penelitian hiu purba karena kerangka hiu tersusun dari tulang rawan yang lebih mudah hancur dibandingkan tulang. Dari bentuk gigi yang ditemukan, peneliti mengidentifikasi lima spesies yang sebelumnya belum tercatat di Abu-Tartur, yakni Cretalamna cf. maroccana, Scapanorhynchus cf. raphiodon, Serratolamna cf. serrata, Squalicorax bassanii, dan Squalicorax pristodontus.
Dua di antaranya bahkan merupakan catatan baru untuk Mesir, yaitu Serratolamna cf. serrata dan Squalicorax bassanii. Yang paling menarik adalah Scapanorhynchus cf. raphiodon. Spesies tersebut memiliki gigi panjang dan ramping seperti jarum. Peneliti menduga temuan ini bisa menjadi kemunculan pertama spesies tersebut yang diketahui dari Afrika, sekaligus salah satu fosil termuda yang pernah ditemukan untuk kelompok tersebut.
Meski disebut sebagai 'kuburan hiu', para peneliti tidak menyimpulkan bahwa tujuh spesies tersebut hidup dan mati di lokasi yang sama pada waktu bersamaan. Lapisan fosfat di Abu-Tartur terbentuk dengan sedimentasi yang relatif sedikit. Akibatnya, gigi yang ditemukan merupakan akumulasi dari periode waktu yang panjang.
Artinya, kumpulan fosil tersebut lebih tepat dipandang sebagai rekaman berbagai komunitas laut dari waktu ke waktu, bukan satu peristiwa kematian massal. Lalu mengapa begitu banyak predator seperti hiu bisa hidup di kawasan tersebut?
Peneliti menduga jawabannya adalah upwelling, yaitu naiknya air laut dari lapisan lebih dalam yang membawa nutrisi ke permukaan. Nutrisi tersebut kemudian mendukung pertumbuhan plankton. Plankton menjadi sumber makanan bagi ikan kecil dan berbagai invertebrata, yang selanjutnya menopang predator yang lebih besar seperti hiu.