Keberadaan beberapa jenis hiu juga menunjukkan mereka kemungkinan menempati relung ekologi yang berbeda. Peneliti menyebut keberadaan Squalicorax dapat mengindikasikan lingkungan perairan dangkal atau dekat pantai, sedangkan Scapanorhynchus lebih berkaitan dengan kondisi perairan yang lebih dalam.

Dengan demikian, gigi-gigi kecil yang kini terkubur di batuan gurun ternyata menjadi petunjuk tentang rantai makanan dan kondisi laut purba. Selama jutaan tahun, bentang alam tersebut berubah drastis.

Laut Tethys yang dahulu menutupi kawasan itu akhirnya menghilang, sementara dasar laut berubah menjadi bagian dari daratan dan kemudian menjadi lingkungan gurun. Namun, fosil gigi hiu tetap tersimpan di dalam batuan.

Temuan di Abu-Tartur menunjukkan bahwa gurun yang terlihat tandus hari ini sebenarnya menyimpan rekaman sebuah dunia laut yang pernah sangat kaya kehidupan. Bagi ilmuwan, setiap gigi hiu bukan sekadar fosil predator purba. Bentuk dan jenisnya dapat membantu merekonstruksi bagaimana kondisi laut, rantai makanan, dan ekosistem di Afrika Utara jutaan tahun lalu.

Artikel ini telah tayang di NadiKabar. Baca selengkapnya di sini.