Ada mitos lain yang menyebutkan bahwa tokek hanya akan melepas gigitan saat mendengar petir. Hal tersebut tidak benar.

Hellen Kurniati, pakar herpetofauna, mengatakan tokek melepas mulut jika merasa aman. "Itu hanya mitos (tokek dengan suara petir). Pengalaman saya, kita elus-elus bagian bawah kepala (tokek). Pelan-pelan dan nanti akan dibuka mulutnya. Cuma, kalau gerak terus, dia makin kuat punya gigitan. Jadi harus tenang. Dia merasa nyaman, baru dibuka mulutnya," ujar Hellen kepada NadiKabar.com.

Smithsonian's National Zoo mencatat gigitan tokek bisa mengeluarkan darah. Jika tokek sudah menggigit, jangan tarik tubuhnya dengan paksa karena cengkeramannya justru akan makin kuat. Biarkan tokek melepas gigitannya sendiri.

Jadi, 'tidak beracun' bukan berarti 'tidak bisa melukai'. Tokek yang merasa terjebak bisa mendesis, melarikan diri, atau menggigit. Menangkapnya dengan tangan kosong, memukulnya, atau memaksanya keluar bisa melukai kedua belah pihak.

Jika terluka akibat gigitan tokek, bersihkan luka dengan sabun dan air mengalir minimal 20 menit. Tenaga kesehatan perlu menilai kedalaman luka, tanda infeksi, dan kebutuhan vaksin tetanus.

Cari pertolongan medis jika luka dalam, perdarahan tidak berhenti, nyeri dan bengkak bertambah, ada kemerahan yang meluas, nanah, atau demam. Vaksinasi tetanus juga diperlukan jika status imunisasi tidak jelas.

Risiko kesehatan yang sebenarnya berasal dari bakteri Salmonella, bukan gigitan. CDC mencatat reptil, termasuk tokek, sering menjadi pembawa Salmonella di saluran cerna. Infeksi terjadi jika tangan terkontaminasi feses tokek, lalu menyentuh mulut, atau mengonsumsi daging tokek yang tidak dimasak sempurna. Anak di bawah lima tahun paling berisiko sakit parah akibat bakteri ini.

Beberapa penelitian menguji bahan dari tokek terhadap sel kanker. Hasil laboratorium bukan bukti bahwa mengonsumsi tokek bisa menyembuhkan kanker pada manusia.

Studi Liu dan rekan pada tahun 2008 menguji spesies Gekko japonicus, bukan Gekko gecko (tokek rumah). Mereka menggunakan sel kanker esofagus manusia dan mencit laboratorium. Hasilnya menunjukkan aktivitas antitumor dalam kondisi laboratorium.

Ini penting, temuan pada Gekko japonicus tidak berlaku otomatis pada tokek rumah. Selain itu, uji sel dan mencit bukan uji pada pasien manusia. Studi tersebut tidak membuktikan efektivitas, dosis aman, atau manfaat klinis.

Penelitian lain tahun 2024 menguji toksisitas akut ekstrak Gekko gecko pada 40 tikus. Mereka memberikan dosis 0, 500, 1000, atau 2000 miligram per kilogram berat badan dan mengamatinya selama 14 hari. Tidak ada kematian atau efek merugikan yang ditemukan.