Itu hanya uji toksisitas satu dosis pada tikus, bukan uji pengobatan kanker pada manusia, dan bukan bukti keamanan klinis tokek sebagai obat rumahan. Penderita kanker jangan mengganti obat dokter dengan tokek.
Mitos paling luas di Indonesia adalah kantung empedu, kulit, atau daging tokek memiliki khasiat obat. Di Tiongkok dan beberapa praktik herbal Asia Tenggara, tokek digunakan untuk asma, diabetes, penyakit kulit, bahkan AIDS. Di Jawa Barat dan Jawa Tengah, beberapa orang percaya asap kulit tokek bisa meredakan sesak napas.
WHO pernah membantah klaim mengenai tokek bisa menyembuhkan AIDS (TRAFFIC Southeast Asia, 2013). Tidak ada studi medis kredibel yang membuktikan tokek bisa menyembuhkan asma atau penyakit kronis lainnya. Dokter paru dan ahli farmakologi setuju bahwa efek yang dirasakan kemungkinan besar adalah plasebo, bukan terapi sungguhan.
Ada satu detail penting. Penelitian UGM tahun 2012 oleh Artina Prastowi menganalisis nutrisi daging tokek. Hasilnya: protein 21,42 persen, lemak 1,28 persen, air 72,63 persen, karbohidrat 3,22 persen, serat kasar 0,45 persen, dan abu 1,46 persen. Kandungan ini sama dengan daging hewan lain. Studi ini tidak mengklaim adanya sifat terapeutik istimewa.
Studi lain tentang ekstrak kulit beberapa spesies tokek menunjukkan potensi antibakteri dan antiinflamasi di laboratorium. Namun, uji in vitro tidak sama dengan efektivitas pada manusia. Perlu penelitian lebih lanjut sebelum klaim pengobatan bisa diterima secara klinis.
Tokek jantan dewasa berukuran sekitar 35-40 sentimeter, sedangkan betina 20-30 sentimeter. Tokek memiliki tubuh berbintik, pupil vertikal, dan struktur mikroskopis di jari untuk mencengkeram permukaan.
Tokek bisa melepas ekor sebagai mekanisme pertahanan. Ekor yang lepas masih bisa bergerak selama beberapa saat. Ekor yang tumbuh kembali biasanya tidak sepanjang aslinya. Tokek juga tidak berubah warna secara drastis seperti bunglon.
Tokek sebenarnya berguna karena mereka memakan gerombolan nyamuk, lalat, dan serangga pengganggu lainnya. Jika tokek masuk ke rumah, langkah yang bisa dilakukan adalah mengurangi gangguan, membuka jalan keluar, serta menjauhkan anak dan hewan peliharaan. Jangan memegang tokek untuk menguji apakah dia menggigit. Jika tokek berada di tempat yang sulit dijangkau, mintalah bantuan petugas atau penangkap satwa.
Sebagian besar mitos tokek di Indonesia tidak memiliki dasar ilmiah. Suara tokek adalah bentuk komunikasi kawin. Kehadirannya di rumah terkait dengan keberadaan serangga, bukan pertanda mistis. Klaim obat mujarab pun belum terbukti secara klinis pada manusia.
Risiko nyata lebih terkait dengan kebersihan dan bakteri Salmonella daripada racun atau kekuatan mistis. Tokek memiliki nilai ekologis sebagai pengendali hama. Status konservasinya diatur karena tingginya angka perdagangan.
Memahami hal ini membantu membedakan kepercayaan budaya dari fakta biologi tanpa harus merendahkan tradisi yang sudah lama ada.