Lebih lanjut, Fadli Zon menyampaikan pembelajaran dari kunjungan ke museum-museum di Mesir ini menjadi benchmark penting bagi Indonesia untuk melihat museum sebagai etalase peradaban, bukan semata-mata tempat menyimpan dan merawat koleksi. Menurutnya, museum harus mampu menghidupkan narasi perjalanan peradaban Indonesia, dari kekayaan warisan budaya di tingkat hulu hingga dapat dihadirkan sebagai pengalaman budaya yang bernilai ekonomi di tingkat hilir.

Turut hadir mendampingi dalam kunjungan tersebut, antara lain Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Endah T.D. Retnoastuti; Staf Khusus Menteri Bidang Protokoler dan Rumah Tangga Rachmanda Primayuda; Direktur Promosi Kebudayaan Wawan Yogaswara; dan Kepala Subdirektorat Hubungan Media Andhini Widyasari.

Dalam skema budaya di hulu dan ekonomi budaya pada hilirnya, transformasi, modernisasi, dan digitalisasi museum yang didorong Kementerian Kebudayaan telah diarahkan untuk memperkuat keterhubungan antara pelestarian, pemanfaatan, edukasi, apresiasi, hingga penciptaan nilai ekonomi budaya.

"Museum tidak hanya menjaga warisan masa lalu, tetapi menjadi ruang yang menghidupkan kebudayaan, memperkuat identitas dan kebanggaan nasional, serta membuka peluang bagi tumbuhnya ekonomi budaya Indonesia," tutup Fadli Zon.